Dinas Sosial Kabupaten Ngawi menghadirkan inovasi layanan publik yang menyentuh langsung pada kehidupan masyarakat, khususnya anak-anak difabel. Program bernama ‘Rumah Terapi Ceria Adikku’ ini resmi diimplementasikan sejak Februari 2024, setelah melalui uji coba pada bulam Januari 2024. Latar belakang inovasi ini sederhana namun krusial yaitu masih banyaknya anak difabel yang belum mendapatkan terapi karena keterbatasan biaya. Data menunjukkan lebih dari 200 anak difabel di Ngawi belum memperoleh layanan rehabilitasi yang layak. Melalui rumah terapi gratis ini, Dinas Sosial berupaya mengurangi beban keluarga sekaligus membuka akses yang lebih merata terhadap layanan kesehatan bagi mereka yang membutuhkan.
Rumah Terapi Ceria Adikku dirancang sebagai ruang ramah anak dengan layanan terapi fisik, terapi wicara, terapi okupasi, hingga kegiatan yang membantu perkembangan mental dan emosional anak. Semua diberikan secara gratis tanpa memandang latar belakang ekonomi. Kehadiran rumah terapi ini menjadi angin segar, karena sebelumnya banyak keluarga terpaksa menunda atau bahkan tidak mampu memberikan terapi akibat mahalnya biaya. Inovasi ini membuktikan bahwa pemerintah daerah tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik saja, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup warganya. Adanya layanan gratis ini, anak-anak difabel bisa berkembang lebih optimal, sementara orang tua merasa lebih ringan dalam mendampingi tumbuh kembang anaknya.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Ngawi menegaskan bahwa, Rumah Terapi Ceria Adikku adalah komitmen nyata untuk membangun masyarakat inklusif. “Kami ingin setiap anak difabel memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Terapi gratis ini bukan sekadar fasilitas saja, melainkan bentuk kepedulian agar anak-anak kita bisa tumbuh dengan percaya diri dan mandiri.” Ujarnya. Program ini juga sejalan dengan agenda pemerintah daerah dalam memperkuat pembangunan sumber daya manusia, mengurangi kesenjangan akses layanan kesehatan, dan menciptakan lingkungan sosial yang berkeadilan. Dukungan dari berbagai lintas sektor, termasuk keterlibatan tenaga profesional, menjadi kekuatan utama yang membuat inovasi ini mampu berjalan berkesinambungan.
Sejak dibuka, manfaat rumah terapi sudah mulai dirasakan. Anak-anak difabel mendapat layanan rehabilitasi secara rutin, kemampuan motorik dan komunikasi mereka perlahan meningkat, dan orang tua semakin terlibat aktif dalam proses pendampingan. Rumah Terapi Ceria Adikku menjadi simbol langkah maju Kabupaten Ngawi dalam membangun pelayanan publik yang humanis dan berpihak pada kelompok rentan. Adanya inovasi ini, Kabupaten Ngawi menegaskan bahwa inklusi sosial bukan lagi wacana, melainkan nyata hadir di tengah masyarakat. Harapannya, Rumah Terapi Ceria Adikku dapat terus diperluas, sehingga makin banyak anak difabel yang merasakan manfaatnya, tumbuh ceria, dan menatap masa depan dengan optimisme.