Rendahnya minat baca serta terbatasnya akses teknologi informasi pada sekolah-sekolah yang berada di daerah yang jauh dari pusat kota menjadi tantangan nyata di Kabupaten Ngawi. Tidak semua anak bisa mengunjungi perpustakaan umum atau merasakan pembelajaran komputer. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ngawi meluncurkan inovasi JAS BESKAP MERAH (Jemput Anak Sekolah Belajar Komputer dan Mengenang Sejarah). Program ini resmi diimplementasikan pada 7 Maret 2023 sebagai bentuk layanan jemput bola agar anak-anak mendapatkan akses literasi, teknologi, sekaligus pengetahuan sejarah daerah secara lebih merata.
Inovasi JAS BESKAP MERAH hadir dengan konsep pelayanan terpadu. Armada mobil perpustakaan keliling tidak hanya membawa koleksi buku bacaan, tetapi juga perangkat komputer, akses internet, serta materi arsip sejarah lokal. Anak-anak diajak untuk membaca, belajar komputer dasar, hingga mengenal kisah sejarah Kabupaten Ngawi melalui storytelling, pameran mini arsip, maupun media belajar bergambar. Penggunaan cara ini memberi dampak yang cukup baik yaitu perpustakaan tak lagi dipandang sekadar gudang buku, melainkan pusat ilmu dan pengalaman belajar yang menyenangkan. Program ini juga sejalan dengan pilar Smart People dalam konsep Smart City Madani yang digaungkan Pemkab Ngawi, yakni membangun masyarakat cerdas, kreatif, dan berdaya saing.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsip Kabupaten Ngawi, Suyatno, MM., menjelaskan bahwa JAS BESKAP MERAH dirancang untuk menjawab tiga persoalan utama yaitu menurunnya minat baca, kesenjangan akses teknologi, serta kurangnya pemahaman sejarah lokal di kalangan pelajar. “Kami ingin menghadirkan layanan yang cepat, transparan, dan akuntabel, sekaligus mencerdaskan generasi muda. Penggunaan layanan jemput bola ini, siswa tidak hanya terbantu secara literasi, tetapi juga dibekali keterampilan komputer dasar serta kecintaan pada sejarah daerah,” ujarnya. Hingga tahun 2024, layanan ini sudah menjangkau sejumlah sekolah seperti SDN Beran 5, SDN Ketanggi 2, SDN Kartoharjo 2, SDN Karangasri 1, dan SDN Watualang 3. Dukungan dari sekolah, relawan literasi, serta komunitas pemerhati sejarah semakin memperkuat keberlanjutan program ini.
Manfaat nyata pun mulai terasa. Minat baca siswa makin meningkat, mereka lebih akrab dengan perangkat komputer, dan memiliki kebanggaan terhadap identitas sejarah lokal. Selain itu, JAS BESKAP MERAH juga berhasil direplikasi di berbagai daerah lain seperti Ponorogo, Situbondo, Sidoarjo, hingga Blitar. Keberhasilan ini membuktikan bahwa inovasi lokal Ngawi mampu memberi inspirasi nasional dalam penguatan literasi, pemerataan teknologi, dan pelestarian arsip sejarah. Melalui JAS BESKAP MERAH, Kabupaten Ngawi menegaskan komitmennya untuk tidak membiarkan satu pun anak tertinggal dari akses ilmu pengetahuan dan identitas budaya di era digital.