Kabupaten Ngawi punya cara tersendiri untuk menjaga kedekatan antara pemimpin dan rakyatnya. Program Sambang Desa Nyambung Roso bukan sekadar kunjungan formal yang penuh sambutan dan pidato, melainkan sebuah perjalanan menyentuh hati yang dimulai sejak matahari belum terbit, bahkan sebelum ayam berkokok. Bupati dan Wakil Bupati Ngawi bersama jajaran pemerintah daerah turun langsung ke desa-desa, mengawali kegiatan dengan salat subuh berjamaah di masjid setempat, lalu berbincang santai dengan warga yang hadir. Momen ini menjadi ruang hangat untuk mendengar keluh kesah, usulan, bahkan cerita-cerita kecil yang sering tak tersampaikan di forum resmi.
Program ini sudah menjangkau desa-desa seperti Patalan, Rejuno, Ringinanom, dan Jatimulyo. Di setiap kunjungan, agenda tidak hanya berhenti pada tatap muka, tetapi juga disertai aksi nyata yang berdampak langsung. Salah satunya adalah verifikasi data penerima bantuan sosial untuk memastikan bantuan tepat sasaran. Dengan sistem ini, warga yang benar-benar membutuhkan dapat segera mendapatkan bantuan, sementara data yang tidak valid bisa segera diperbaiki.
Selain itu, tim pemerintah turut meninjau infrastruktur desa. Misalnya, jalan-jalan yang menjadi jalur utama distribusi hasil pertanian seperti jagung diperbaiki agar proses pengangkutan lebih lancar. Ada pula program inovasi inseminasi buatan kambing yang diperkenalkan untuk meningkatkan kualitas ternak. Langkah ini diharapkan bisa menambah penghasilan peternak dan memperkuat sektor ekonomi desa.
Tak kalah penting, Sambang Desa Nyambung Roso juga menjadi sarana memperbarui data kesejahteraan sosial warga. Proses ini dilakukan di lokasi, dengan petugas yang siap membantu setiap warga melengkapi data diri. Dengan begitu, informasi yang tersimpan di sistem pemerintah selalu mutakhir, memudahkan penyaluran bantuan dan perencanaan program pembangunan berikutnya.
Yang menarik, setiap kunjungan dilengkapi suasana gotong royong. Warga ikut aktif memberikan masukan, mulai dari kebutuhan pertanian, pendidikan anak, hingga pengelolaan sampah desa. Pemerintah pun menampung ide-ide kreatif dari masyarakat yang mungkin tidak akan muncul dalam rapat formal di kantor. Inilah kekuatan Sambang Desa Nyambung Roso: membangun komunikasi dua arah yang setara, tanpa sekat jabatan.
Dampak program ini terasa nyata. Infrastruktur yang dibenahi mempercepat distribusi hasil panen. Peternak kambing mendapatkan bibit unggul, dan penerima bantuan sosial menjadi lebih tepat sasaran. Lebih dari itu, tumbuh rasa saling percaya antara pemerintah dan masyarakat. Warga merasa dihargai karena aspirasinya didengar langsung oleh bupati dan wakil bupati, sementara pemerintah memperoleh pemahaman yang lebih utuh tentang kondisi riil di lapangan.
Keberhasilan Sambang Desa Nyambung Roso bukan hanya diukur dari jumlah jalan yang diperbaiki atau bantuan yang tersalurkan, tetapi juga dari ikatan emosional yang terbentuk. Ketika pemimpin rela menyapa warganya sejak subuh, duduk bersama di beranda masjid, atau menelusuri jalan desa yang becek selepas hujan, itu menjadi pesan bahwa pembangunan tidak hanya soal anggaran dan proyek, melainkan juga rasa kepedulian.
Program ini seolah mengingatkan bahwa komunikasi yang tulus adalah fondasi dari pembangunan yang berkelanjutan. Dari obrolan ringan selepas subuh, lahir rencana-rencana besar yang berakar dari kebutuhan nyata warga. Sambang Desa Nyambung Roso menjadi bukti bahwa untuk membangun, pemimpin harus terlebih dahulu mau mendengar.