Ngawi – Sampah yang selama ini identik dengan masalah kini justru menjadi peluang ekonomi di Kabupaten Ngawi. Melalui inovasi GEMAH RIPAH (Gerakan Ambil Sampah Jadi Rupiah), Pemerintah Kabupaten Ngawi bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menghadirkan solusi nyata untuk mengurangi sampah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Program yang mulai diimplementasikan sejak 19 Februari 2024 ini hadir sebagai jawaban atas meningkatnya volume sampah akibat pertumbuhan penduduk dan gaya hidup konsumtif. Siapa inisiatornya? Program ini diinisiasi langsung oleh Bupati Ngawi melalui Dinas Lingkungan Hidup.
GEMAH RIPAH membentuk Bank Sampah di berbagai desa, di mana masyarakat menjadi “nasabah” dengan menyetor sampah rumah tangga sesuai jenisnya. Sampah anorganik dipilah lalu dijual ke pengepul atau diolah menjadi kerajinan bernilai jual, sementara sampah organik dimanfaatkan untuk budidaya maggot dan pupuk kompos. Sebagai gantinya, masyarakat mendapatkan tabungan yang bisa dicairkan sesuai kesepakatan.
Sampah yang tidak terkelola berisiko mencemari tanah, air, dan udara, bahkan mengganggu kesehatan masyarakat. Melalui GEMAH RIPAH, masyarakat didorong untuk mengubah kebiasaan membuang atau membakar sampah sembarangan menjadi perilaku ramah lingkungan.
Dalam waktu singkat, program ini mampu mengurangi timbulan sampah yang masuk ke TPA, menciptakan lingkungan yang lebih bersih, hijau, dan nyaman. Tidak hanya itu, program ini juga menambah pendapatan keluarga sekaligus meningkatkan kesadaran kolektif akan pentingnya pengelolaan sampah berkelanjutan.
GEMAH RIPAH melibatkan perangkat daerah, sekolah, UMKM, hingga masyarakat umum. Kolaborasi ini membuat inovasi cepat berkembang dan bahkan telah direplikasi di daerah lain sebanyak tiga kali.
Dengan keunggulan ini, GEMAH RIPAH bukan sekadar solusi lingkungan, tetapi juga gerakan ekonomi hijau yang mengubah sampah menjadi sumber daya berharga. Kabupaten Ngawi optimistis, program ini akan menjadi contoh nasional dalam mewujudkan ekonomi sirkular berbasis masyarakat.