Ngawi – Puskesmas Jogorogo, Kabupaten Ngawi, menghadirkan inovasi pelayanan kesehatan bertajuk PAKDE JANOKO (Pelayanan Khusus dan Terpadu Bersama Kader sebagai Jasa Antar Obat Tuberkulosis). Program ini resmi diuji coba pada 2 Januari 2024 dan mulai diimplementasikan penuh sejak 1 April 2024 untuk mempermudah akses layanan bagi pasien TBC yang mengalami kendala geografis maupun fisik.
Inovasi ini lahir dari kondisi nyata di wilayah kerja Puskesmas Jogorogo. Dengan medan pegunungan yang cukup jauh dari pusat layanan, banyak pasien TBC – terutama lansia, penyandang disabilitas, dan mereka yang lemah secara fisik – kesulitan mengambil obat OAT (Obat Anti Tuberkulosis) langsung ke puskesmas. Kondisi ini berpotensi menimbulkan putus obat, TB mangkir, bahkan risiko resistensi obat.
Melalui PAKDE JANOKO, pasien tidak perlu lagi repot datang ke puskesmas. Obat akan diantar langsung oleh kader kesehatan desa yang sudah dilatih, bekerja sama dengan petugas program TBC. Tak hanya itu, dalam setiap kunjungan rumah, kader dan petugas juga melakukan pemeriksaan kesehatan, skrining keluarga, tuberkulin test, monitoring efek samping obat, hingga edukasi pencegahan penularan TBC.
“Program ini kami rancang untuk menjamin pasien tetap mendapat obat tepat waktu, mencegah putus terapi, sekaligus memperluas skrining keluarga agar tidak ada penularan baru,” jelas pihak pengelola program TBC Puskesmas Jogorogo.
Dampak inovasi ini cukup signifikan. Pada tahun 2024, success rate kesembuhan pasien TBC di Puskesmas Jogorogo mencapai 102%, sementara capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) pelayanan TBC bahkan tembus 105,4% dari target. Program ini juga telah mendapat pengakuan resmi melalui SK Bupati Ngawi dan sudah direplikasi ke daerah lain seperti Jombang dan Bangkalan.
Dengan mengintegrasikan peran kader desa, home visit, dan pengantaran obat, PAKDE JANOKO menjadi inovasi layanan publik yang inklusif, efisien, sekaligus berdampak luas, sejalan dengan target nasional eliminasi TBC tahun 2030.