Bapak Asuh Burung Hantu: Strategi Ramah Lingkungan Atasi Hama Tikus di Ngawi

Dalam upaya memperkuat ekosistem pertanian berkelanjutan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Ngawi menggulirkan inovasi unik dan inspiratif bertajuk “Bapak Asuh Burung Hantu”. Inovasi ini menjadi bagian dari strategi prioritas daerah untuk menghadapi ancaman hama tikus yang selama ini meresahkan petani dan menurunkan hasil panen. Pendekatan ini memanfaatkan burung hantu jenis Tyto alba sebagai predator alami, yang terbukti mampu memangsa tikus hingga lima ekor per malam—menawarkan solusi efektif sekaligus ramah lingkungan.

Program ini diwujudkan melalui pembangunan pagupon atau Rubuha (Rumah Burung Hantu) di area persawahan. Struktur pagupon dibuat dengan tinggi sekitar 3 meter dan disusun setiap 100 meter, menciptakan habitat nyaman bagi burung hantu agar bersarang dan berkembang biak. Kabupaten Ngawi juga telah melakukan studi tiru ke Desa Tlogoweru, Demak—yang dikenal sukses dalam pemberdayaan burung hantu. Dalam studi tersebut, Ngawi mempelajari pentingnya membangun Peraturan Desa (Perdes) untuk melindungi keberadaan burung hantu dan mencegah penggunaan jebakan listrik yang membahayakan manusia dan lingkungan.

Inovasi ini sejatinya bukan hal baru bagi Ngawi. Sejak 1996, Pusat Pengembangan Agens Hayati (PPAH) di Desa Giriharjo telah mengembangkan sistem serupa. Bahkan, di beberapa kecamatan seperti Ngrambe, Sine, dan Jogorogo, jumlah pagupon sudah mencapai ratusan unit. Pemerintah daerah juga aktif melakukan pelepasan burung hantu sebagai simbol komitmen ekologis, sekaligus sebagai bentuk kampanye meninggalkan metode pengendalian hama yang berbahaya seperti jebakan listrik.

Dengan semangat “Bapak Asuh Burung Hantu”, Dinas Pertanian Ngawi ingin mendorong kolaborasi yang lebih luas—melibatkan kelompok tani, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa untuk mengadopsi pendekatan ini secara masif. Bappeda Kabupaten Ngawi mendukung penuh langkah ini sebagai bagian dari strategi inovatif daerah yang sejalan dengan visi pembangunan hijau. Inovasi ini berpotensi besar menjaga produktivitas pertanian, meningkatkan kesadaran ekologis, dan menciptakan ketahanan pangan yang tangguh untuk masa depan Ngawi.

Scroll to Top