Dalam rangka meningkatkan kecepatan respons terhadap kerusakan jaringan irigasi, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Ngawi menghadirkan inovasi PERWIRA (Pelaporan Kerusakan Irigasi Ngawi Ramah). Inovasi digital ini memungkinkan pelaporan kerusakan dilakukan secara real-time oleh petugas lapangan atau petani melalui formulir berbasis Google Drive, lengkap dengan dokumentasi foto dan titik lokasi. Dengan sistem ini, laporan diterima lebih cepat dan langsung masuk ke sistem kerja DPUPR dan UPTD terkait, sehingga proses registrasi, verifikasi, dan penanganan bisa dilakukan secara lebih efisien dan sistematis.
Sebagai wilayah dengan 129.816 hektar lahan pertanian, Kabupaten Ngawi sangat bergantung pada sistem irigasi yang andal. PERWIRA hadir menjawab persoalan klasik di lapangan, seperti pelaporan manual yang lambat, dokumentasi tidak lengkap, dan putusnya komunikasi antar petugas. Melalui pendekatan digital ini, berbagai jenis kerusakan—seperti retakan, rembesan, atau kerusakan struktur irigasi—dapat langsung dilaporkan oleh petani maupun petugas. Hal ini memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat terkait jadwal perbaikan dan distribusi material atau alat.
Dampak jangka panjang PERWIRA sangat signifikan, terutama dalam mendukung keberlanjutan sistem irigasi pertanian. Inovasi ini tidak hanya mempercepat proses perbaikan di lapangan, tetapi juga menjaga kestabilan suplai air bagi lahan pertanian, khususnya menjelang musim kemarau. Ketahanan pangan Kabupaten Ngawi pun semakin kuat karena ancaman gagal panen akibat saluran irigasi rusak bisa diminimalisir. PERWIRA juga memperlihatkan keseriusan pemerintah daerah dalam membangun layanan publik berbasis teknologi yang partisipatif, transparan, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat tani.
Dengan pendampingan dari Bappeda Kabupaten Ngawi, PERWIRA akan terus dikembangkan melalui fitur-fitur tambahan seperti integrasi GPS, notifikasi otomatis ke petugas teknis, serta dashboard monitoring untuk pengawasan progres dan evaluasi. Program ini menjadi simbol transformasi digital dalam bidang infrastruktur dan pertanian, sekaligus memperkuat sinergi antara DPUPR, UPTD, pemerintah desa, dan masyarakat tani. Inisiatif ini menjadikan Ngawi sebagai salah satu daerah percontohan dalam pengelolaan infrastruktur pertanian adaptif, modern, dan berkelanjutan.