Kecamatan Kedunggalar di Kabupaten Ngawi menunjukkan bahwa hadapi bencana tak harus panik, tapi bisa cerdas dan terorganisir. Lewat inovasi KENCANA (Kecamatan Tangguh Bencana) yang diperkuat dengan SIKencana, sebuah platform sistem informasi ketangguhan bencana, masyarakat dan perangkat desa kini lebih siap menghadapi ancaman bencana seperti banjir. Inovasi ini merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah kecamatan, Bappeda Kabupaten Ngawi, serta tokoh lokal yang berkomitmen membangun sistem tanggap yang cepat, akurat, dan berbasis komunitas.
Kedunggalar bukanlah wilayah yang asing terhadap tantangan hidrometeorologis. Luapan sungai, curah hujan tinggi, dan lokasi geografis yang rawan banjir telah menjadi ujian rutin bagi warga. Namun, kehadiran SIKencana mengubah pola respons menjadi lebih proaktif dan strategis. Melalui pelatihan, edukasi masyarakat, hingga penggunaan sistem peringatan dini, kini lebih dari 86% layanan darurat dapat diselesaikan dengan baik. Ini membuktikan bahwa dengan persiapan matang, masyarakat tidak hanya bisa selamat, tapi juga mampu menjaga stabilitas sosial dan infrastruktur desa.
Sistem SIKencana memungkinkan seluruh unsur masyarakat terlibat aktif—mulai dari relawan desa, perangkat daerah, BPBD, hingga TNI dan Polri—dalam satu jaringan komunikasi dan informasi yang solid. Sistem ini terbukti vital saat banjir melanda Dusun Pilanggarem, Desa Pelang Lor, di mana jalur evakuasi sempat terputus dan puluhan keluarga terisolasi. Namun dengan koordinasi cepat dan akses data real-time, distribusi bantuan dan evakuasi berjalan lancar. Kesiapsiagaan yang dulu hanya mimpi kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Kedunggalar.
Ke depan, inovasi KENCANA dan SIKencana punya potensi besar sebagai model nasional dalam pengelolaan risiko bencana berbasis masyarakat. Dengan terus memperkuat pelatihan, monitoring, dan sinergi antar stakeholder, Kedunggalar sedang membangun budaya sadar bencana yang inklusif, teknologi-berbasis, dan berkelanjutan. Inilah wajah baru Kecamatan Tangguh Bencana—bukan cuma kuat di atas kertas, tapi kuat di lapangan dan hati warganya!