Desa Sirigan di Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi memperlihatkan transformasi agribisnis yang menawan lewat inovasi Jeruk Manis Sirigan. Dalam satu dekade terakhir, masyarakat desa berhasil membangun jejaring ekonomi rakyat dengan memanfaatkan potensi jeruk manis lokal, buah yang memiliki nilai jual tinggi. Program ini tak hanya menyentuh aspek pertanian, tetapi juga ekonomi komunitas, menjadikan petani sebagai pusat penggerak kesejahteraan desa. Gerakan ini dirancang agar petani lokal tidak lagi menjadi pihak pasif dalam rantai pasokan, melainkan penggerak utama yang menikmati hasil jerih payah mereka.
Pelaksanaan inovasi ini melibatkan pembentukan jejaring antarpetani jeruk manis yang mengatur pola tanam, panen, pengemasan, hingga pemasaran secara kolektif. Desa menggandeng koperasi lokal dan mengurangi ketergantungan keseharian pada tengkulak atau broker. Dengan teknologi sederhana dan pelatihan intensif, petani belajar teknik agronomi untuk meningkatkan kualitas buah, termasuk pemangkasan, pemupukan, dan perawatan pascapanen agar jeruk tetap segar dalam distribusi. Pendekatan ini memperpendek rantai pemasaran dan memperkuat posisi tawar petani menjadikan mereka bukan hanya penghasil, tetapi pengendali nilai jual produk.
Hasilnya kini mulai terlihat. Pendapatan keluarga petani di Sirigan meningkat karena jeruk manis dijual langsung ke pasar tanpa banyak lapisan perantara. Selain itu, koperasi desa menjadi pusat pengelolaan produk dengan mekanisme volume pembelian, promosi bersama, hingga pembukaan kanal penjualan digital. Lewat usaha ini, peluang kerja baru pun terbuka, tempat pelajar desa ikut membantu pengemasan atau pemasaran online. Semangat kolektif membuat komoditas ini menciptakan dampak sosial positif: memperkuat solidaritas desa, menjaga keberlanjutan agrikultur, dan mempertahankan ekonomi lokal dalam harmoni dengan budaya pertanian setempat.
Keberhasilan Jeruk Manis Sirigan berpotensi menjadi model agribisnis desa yang bisa direplikasi di wilayah lain. Dengan memperpendek rantai pemasaran, menumbuhkan kolektif petani, dan memperkuat akses pasar modern, desa menjadi lebih mandiri dan resilient secara ekonomi. Rencana ke depan termasuk memperluas jaringan distribusi ke pasar kota, membuka kemitraan dengan ritel digital, serta mengembangkan olahan jeruk seperti jus, selai, atau produk wisata agro yang memperkaya nilai tambah. Inovasi ini membuktikan bahwa dengan strategi bersama, potensi lokal seperti jeruk manis bisa menjadi motor penggerak kemakmuran desa secara berkelanjutan.