Desa Dawung menghadirkan inovasi SEKAR JAMU (Sekolah Kreatif Jamu Gendong Dawung), sebuah program kreatif yang menghidupkan kembali tradisi jamu sekaligus membuka peluang usaha baru. Program ini melatih ibu rumah tangga dan generasi muda untuk meracik jamu tradisional secara higienis, mengemasnya dengan menarik, serta memasarkan produk lewat jalur modern, termasuk media digital. Dengan cara ini, jamu gendong tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang menjadi produk bernilai ekonomi yang bisa bersaing di pasar.
Pelatihan SEKAR JAMU berlangsung rutin di balai desa dan menghadirkan narasumber berpengalaman, mulai dari peracik jamu tradisional hingga praktisi herbal modern. Peserta belajar mengenali tanaman obat di sekitar, mempraktikkan teknik pengolahan bahan, dan merancang kemasan yang sesuai standar pangan. Program ini juga menjadi ruang kreatif untuk berbagi resep, menciptakan varian rasa baru, dan membangun strategi pemasaran yang relevan dengan selera konsumen masa kini. Pemerintah desa bersama puskesmas memberikan edukasi tentang manfaat jamu, sehingga warga memahami bahwa jamu bukan sekadar minuman tradisional, tetapi juga bagian penting dari gaya hidup sehat.
Hasil nyata mulai terlihat. Beberapa peserta berhasil memproduksi jamu kemasan dan menjualnya di pasar lokal, warung, hingga platform daring. Produk-produk jamu seperti kunyit asam, beras kencur, wedang uwuh, hingga inovasi rasa baru berhasil menarik minat konsumen lintas usia. Tradisi jamu gendong yang dulu sederhana kini tampil lebih modern tanpa meninggalkan cita rasa aslinya. Program ini tidak hanya menggerakkan ekonomi warga, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga masyarakat terhadap identitas budaya mereka.
Ke depannya,SEKAR JAMU terus berkembang dengan rencana memperluas jaringan pemasaran, menambah variasi produk, dan mengajukan sertifikasi agar dapat menembus pasar yang lebih luas. Kepala Desa Dawung optimis, dengan gotong royong dan kreativitas warga, jamu gendong akan kembali menjadi ikon kebanggaan desa. Inovasi ini membuktikan bahwa pelestarian budaya bisa berjalan seiring dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat, bahkan mampu mengharumkan nama desa hingga tingkat nasional.