BESTI DI CETING: Gerakan Desa Karangbanyu untuk Cegah Stunting dan Sehatkan Generasi

Stunting masih menjadi masalah serius di banyak desa, termasuk Karangbanyu, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi. Desa ini berpenduduk 6.265 jiwa dan terbagi dalam tujuh dusun: Pulo, Jatisari, Karangbanyu, Wonokerto, Ngampon, Butuh, dan Tretes. Data terbaru mencatat 17 balita mengalami stunting dan 27 ibu hamil menghadapi Kekurangan Energi Kronis (KEK). Kondisi ini mendorong pemerintah desa bersama Tim Penggerak PKK untuk bergerak cepat. Mereka melihat stunting bukan sekadar masalah gizi, tetapi ancaman bagi kualitas generasi. Karena itu, lahirlah inovasi BESTI DI CETING sebagai gerakan pendampingan ibu hamil dan balita dengan pola asuh sehat, edukasi gizi, serta intervensi nyata.

Strategi Lapangan untuk Cegah Stunting

Program BESTI DI CETING mengusung strategi yang menyentuh langsung keluarga. Tim desa melakukan pendampingan intensif untuk ibu hamil KEK, memberi makanan tambahan bergizi, dan mengadakan penyuluhan berkelanjutan. Edukasi tidak hanya berbentuk teori, tetapi juga praktik nyata. Tim PKK, kader posyandu, BKB, dan PPKBD berkoordinasi dengan puskesmas serta dinas terkait. Mereka menggelar demo masak berbahan lokal, memantau kesehatan ibu hamil, dan mencatat perkembangan balita secara rutin. Pendekatan ini membuat masyarakat sadar bahwa pencegahan stunting juga bergantung pada pola hidup dan pola asuh di rumah.

Inovasi ini mengedepankan konsep ABCDE bebas stunting. A berarti aktif minum tablet tambah darah. B, bumil rutin periksa kehamilan. C, cukup konsumsi protein hewani. D, datang ke posyandu setiap bulan. E, eksklusif ASI selama enam bulan. Prinsip sederhana ini mudah dipahami keluarga dan memudahkan kader saat mendampingi warga. Pemerintah desa juga mengalokasikan anggaran khusus untuk memastikan gizi keluarga tetap terpenuhi. Sementara itu, tokoh masyarakat dan perangkat desa menjaga komitmen dengan mendukung aksi nyata di lapangan.

Hadirnya BESTI DI CETING membangkitkan optimisme warga Karangbanyu. Ibu hamil lebih peduli pada kesehatan kehamilan. Keluarga aktif menjaga asupan gizi anak sejak dini. Pemanfaatan pangan lokal juga memperkuat ketahanan rumah tangga. Program ini tidak hanya menekan angka stunting, tetapi juga membangun desa yang lebih sehat, adil, dan sejahtera. Jika kolaborasi tetap terjaga, Karangbanyu bukan hanya bebas stunting, tetapi juga bisa menjadi contoh inspiratif bagi desa lain di Ngawi maupun Indonesia.

Scroll to Top