UNICEF Dorong Fortifikasi Beras Nasional, Ngawi Dinilai Jadi Daerah Potensial

Ngawi, 14 April 2026 – UNICEF bersama Pemerintah Kabupaten Ngawi melalui Bidang Perekonomian Bappeda menggelar rapat koordinasi terkait program Fortifikasi Pangan Berskala Besar (FPBB) yang terintegrasi dengan penyusunan RAD PGBPSDL.

Kegiatan ini dihadiri oleh UNUSA, DKPP, DPPTK, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, serta Dinas Koperasi dan Usaha Mikro sebagai bentuk kolaborasi lintas sektor dalam mendukung percepatan perbaikan gizi masyarakat.

Dalam pertemuan ini, UNICEF mendorong penguatan implementasi fortifikasi pangan sebagai strategi efektif dan berbiaya rendah untuk mengatasi kekurangan zat gizi mikro. Intervensi ini dilakukan melalui fortifikasi bahan pangan pokok seperti garam, minyak goreng, tepung terigu, dan beras, yang dinilai mampu menjangkau masyarakat secara luas.

Kabupaten Ngawi dinilai sebagai salah satu daerah yang memiliki potensi besar dalam pengembangan fortifikasi beras, mengingat posisinya sebagai lumbung padi nasional dan penghasil beras utama. Potensi ini menjadi peluang strategis untuk tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga kualitas gizi pangan masyarakat.

Pembahasan juga mencakup kondisi permasalahan gizi di daerah, termasuk prevalensi anemia, serta pentingnya fortifikasi zat besi, iodium, dan vitamin A sebagai upaya pencegahan kekurangan zat gizi mikro.

Dalam mendukung implementasi program ini, pemerintah daerah memiliki peran penting, antara lain:
• Penyusunan dan penguatan kebijakan daerah terkait fortifikasi pangan
• Integrasi program ke dalam dokumen perencanaan (RKPD, RAD-PG/RAD PGBPSDL, dan Renstra OPD)
• Pengawasan mutu produk fortifikasi bersama OPD terkait dan BPOM
• Pengembangan fortifikasi beras berbasis potensi unggulan daerah melalui poktan, gapoktan, dan koperasi
• Edukasi masyarakat, termasuk literasi membaca label dan sosialisasi digital
• Pemantauan indikator gizi seperti anemia serta progres intervensi daerah

Program ini diarahkan untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat, antara lain menurunkan angka anemia dan kekurangan gizi mikro, meningkatkan kesehatan ibu dan anak, memperluas akses terhadap pangan bergizi yang terjangkau, serta memberikan nilai tambah bagi petani. Selain itu, upaya ini juga diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya di Kabupaten Ngawi.

Scroll to Top