Gerak Cepat Tanpa Tunda, KEBUT GIZI Kejar Masalah Gizi hingga Tuntas

Ngawi – Dalam upaya menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas gizi anak sejak dini, Puskesmas Kedunggalar menghadirkan inovasi bernama KEBUT GIZI (Kelas Ibu Pintar Gizi). Program ini menjadi salah satu strategi unggulan berbasis pemberdayaan masyarakat, khususnya ibu balita, dalam memahami dan menerapkan pola gizi seimbang. Latar belakang lahirnya inovasi ini tidak terlepas dari masih tingginya angka stunting di wilayah Kedunggalar. Berdasarkan data Bulan Timbang tahun 2019, prevalensi stunting di wilayah kerja Puskesmas Kedunggalar mencapai 23,26 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata Kabupaten Ngawi sebesar 22,20 persen. Kondisi ini menjadikan wilayah tersebut masuk dalam kategori daerah dengan tingkat stunting tinggi yang memerlukan intervensi serius. Permasalahan utama yang dihadapi tidak hanya terkait keterbatasan ekonomi, tetapi juga rendahnya pengetahuan ibu tentang gizi seimbang dan pola pemberian makan bayi dan anak (PMBA). Banyak orang tua belum memahami pentingnya pemenuhan gizi sejak dini, sehingga berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.

Melalui KEBUT GIZI, pendekatan yang digunakan tidak hanya sebatas penyuluhan, tetapi juga praktik langsung yang terstruktur dan berkelanjutan. Program ini dirancang dalam bentuk kelas rutin bagi ibu balita, yang berisi edukasi tentang masalah gizi, penerapan konsep gizi seimbang “4 bintang plus”, hingga pelatihan pemilihan bahan makanan dan pengolahan menu sesuai kebutuhan anak.

Dalam pelaksanaannya, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga dilibatkan secara aktif dalam praktik memasak dan penyusunan menu makanan bergizi. Dengan demikian, ibu balita tidak hanya memahami teori, tetapi mampu langsung menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari di rumah. Program ini juga didukung oleh kolaborasi lintas sektor, termasuk pemerintah desa yang turut mengalokasikan dana desa untuk keberlanjutan kegiatan KEBUT GIZI. Dukungan ini menjadi kunci penting dalam memastikan program dapat berjalan secara rutin dan menjangkau lebih banyak sasaran.

Sejak dilaksanakan, inovasi ini menunjukkan dampak positif, terutama dalam peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam mengelola gizi keluarga. Selain itu, terbentuk pula komunitas ibu yang sadar gizi dan saling berbagi pengalaman dalam menjaga kesehatan anak.inovasi ini merupakan langkah strategis dalam pencegahan stunting berbasis keluarga. Dengan menanamkan pemahaman sejak dini kepada ibu sebagai pengasuh utama, program ini diharapkan mampu menciptakan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan berkualitas di masa depan. Ke depan, inovasi ini diharapkan dapat terus dikembangkan dan direplikasi di wilayah lain sebagai model intervensi gizi berbasis masyarakat yang efektif dan berkelanjutan.

Scroll to Top