Ngawi – Dalam upaya menekan angka stunting sejak dini, Desa Katikan bersama tenaga kesehatan menghadirkan inovasi berbasis pemberdayaan masyarakat dengan nama CETING RECAMILI MIDER (Cegah Stunting dari Remaja, Catin, Ibu Hamil, Balita dengan Pendamping Kader). Program ini menjadi langkah strategis dalam pencegahan stunting yang dilakukan secara menyeluruh, mulai dari remaja hingga balita. Inovasi ini dilatarbelakangi oleh masih tingginya angka stunting serta tantangan kesehatan ibu dan anak. Stunting sendiri merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, yang berdampak tidak hanya pada tinggi badan, tetapi juga pada perkembangan kognitif, kesehatan, hingga produktivitas di masa depan. Di sisi lain, angka kematian ibu dan bayi juga masih menjadi perhatian, sehingga diperlukan intervensi yang dilakukan sejak sebelum masa kehamilan. Melalui program ini, pendekatan yang dilakukan tidak lagi bersifat parsial, tetapi menyasar seluruh siklus kehidupan. Inovasi ini melibatkan berbagai kegiatan terintegrasi yang menyentuh kelompok sasaran secara berkelanjutan.

Salah satu kegiatan utama adalah Posyandu Remaja Hebat, yang bertujuan meningkatkan kesadaran kesehatan remaja sebagai calon generasi penerus. Selain itu, terdapat monitoring kartu suplemen gizi bagi remaja putri dan calon pengantin guna memastikan kesiapan kesehatan sebelum memasuki masa pernikahan dan kehamilan. Bagi ibu hamil, program ini menghadirkan kelas ibu hamil (Kebutik) yang memberikan edukasi seputar kehamilan sehat, serta pendampingan intensif melalui konsep “Turis Mider”, yaitu satu kader mendampingi satu ibu hamil berisiko tinggi maupun balita bermasalah gizi. Pendampingan dilakukan sejak awal kehamilan hingga masa nifas, sehingga kondisi ibu dan bayi dapat terus terpantau.
Selain itu, terdapat berbagai intervensi gizi seperti pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil risiko tinggi dan balita stunting, serta kegiatan Pos Gizi Kasih Bunda yang dilakukan selama 12 hari berturut-turut untuk memperbaiki status gizi anak. Upaya ini diperkuat dengan pembentukan Kelompok Pendukung ASI (KP ASI Ceria) guna meningkatkan cakupan ASI eksklusif. Tidak hanya fokus pada aspek kesehatan, inovasi ini juga mengedepankan nilai sosial melalui kegiatan seperti Sedekah Segenggam Beras (SSB) yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam membantu pemenuhan kebutuhan gizi. Bahkan, inovasi tambahan seperti ASPAL MURMER (Arisan SPAL Murah Meriah) turut dihadirkan untuk mendukung sanitasi lingkungan, yang juga berpengaruh terhadap kesehatan anak. Seluruh kegiatan dalam program ini didukung oleh pendanaan dari dana desa, sehingga pelaksanaannya dapat berjalan secara berkelanjutan dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Sejak diterapkan, CETING RECAMILI MIDER memberikan dampak positif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan stunting sejak dini. Pendekatan yang melibatkan kader sebagai pendamping langsung dinilai efektif dalam memastikan intervensi tepat sasaran dan berkesinambungan. Dengan menyasar seluruh tahapan kehidupan, mulai dari remaja hingga balita, CETING RECAMILI MIDER diharapkan mampu menjadi model inovasi desa dalam percepatan penurunan stunting. Ke depan, program ini diharapkan terus berkembang dan dapat direplikasi di wilayah lain sebagai bentuk nyata kolaborasi masyarakat dalam mendukung pembangunan kesehatan yang berkelanjutan.