Ngawi – Upaya penanggulangan penyakit Tuberkulosis terus diperkuat melalui berbagai inovasi pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Puskesmas Jogorogo menghadirkan terobosan dengan nama PAKDE JANOKO (Pelayanan Khusus oleh Kader sebagai Jasa Antar Obat Tuberkulosis), sebuah layanan jemput bola yang mengintegrasikan pengantaran obat, pemeriksaan kesehatan, hingga edukasi langsung ke rumah pasien. Program ini hadir sebagai respons atas tingginya kasus TBC di Kabupaten Ngawi. Berdasarkan data tahun 2023, tercatat lebih dari seribu kasus TBC, baik sensitif obat maupun resisten obat. Kondisi geografis wilayah Jogorogo yang didominasi pegunungan menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi pasien lansia, disabilitas, atau mereka yang memiliki keterbatasan akses transportasi menuju fasilitas kesehatan.

Sebelum adanya inovasi ini, pasien TBC diwajibkan mengambil obat secara mandiri ke puskesmas sesuai jadwal. Namun, dalam praktiknya, banyak pasien yang mengalami kesulitan akibat jarak tempuh yang jauh dan keterbatasan sarana transportasi. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan keterlambatan bahkan putus pengobatan, yang pada akhirnya meningkatkan risiko resistensi obat serta memperbesar peluang penularan di masyarakat.
Melalui PAKDE JANOKO, sistem pelayanan mengalami perubahan signifikan. Petugas kesehatan bersama kader desa kini aktif mengidentifikasi pasien prioritas, seperti lansia, pasien dengan kondisi lemah, serta mereka yang tinggal di wilayah sulit dijangkau. Obat anti tuberkulosis (OAT) kemudian diantarkan langsung ke rumah pasien oleh kader yang telah berkoordinasi dengan pengelola program TBC di puskesmas.
Tidak hanya sekadar mengantar obat, layanan ini juga menghadirkan pemeriksaan kesehatan terpadu di rumah pasien. Petugas melakukan anamnesa, pemeriksaan fisik, pemantauan efek samping obat, hingga skrining terhadap anggota keluarga atau kontak erat melalui pemeriksaan tuberkulin. Selain itu, edukasi terkait pencegahan penularan dan pentingnya kepatuhan minum obat juga diberikan secara langsung kepada pasien dan keluarga. Keterlibatan kader desa menjadi salah satu kunci keberhasilan inovasi ini. Mereka tidak hanya berperan sebagai pengantar obat, tetapi juga sebagai pendamping pasien dalam memastikan kepatuhan minum obat (PMO). Pendekatan ini dinilai efektif karena kader lebih dekat dengan masyarakat dan memahami kondisi sosial lingkungan setempat.
Sejak diterapkan, PAKDE JANOKO memberikan dampak positif yang cukup signifikan. Pasien kini dapat memperoleh obat tepat waktu tanpa harus menempuh perjalanan jauh, sehingga kepatuhan pengobatan meningkat. Risiko putus obat pun menurun, yang berdampak pada pencegahan kasus TBC resisten obat. Selain itu, skrining keluarga yang dilakukan secara langsung turut meningkatkan deteksi dini kasus baru di lingkungan sekitar pasien. Hal ini memungkinkan penanganan lebih cepat sehingga penyebaran penyakit dapat ditekan.
Dalam jangka panjang, inovasi ini diharapkan mampu menurunkan angka prevalensi TBC di wilayah Ngawi, sekaligus mewujudkan pelayanan kesehatan yang lebih inklusif dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk di daerah terpencil. PAKDE JANOKO menjadi bukti bahwa pelayanan kesehatan tidak harus menunggu pasien datang, tetapi justru harus hadir lebih dekat dengan masyarakat. Dengan kolaborasi antara tenaga kesehatan dan kader desa, inovasi ini diharapkan dapat menjadi model pelayanan TBC yang efektif dan dapat direplikasi di wilayah lain.