Ngawi – Upaya pengendalian penyakit Tuberkulosis terus diperkuat melalui inovasi pelayanan berbasis masyarakat. Salah satu terobosan yang dilakukan adalah program TOBAT ORA KUMAT (Temukan, Obati Orang dengan TBC Kupantau Sampai Tuntas) yang dikembangkan untuk memastikan pasien TBC mendapatkan pengobatan hingga sembuh dan tidak mengalami kekambuhan. Program ini hadir sebagai respons terhadap masih tingginya kasus TBC di Indonesia. Berdasarkan data World Health Organization, Indonesia termasuk dalam tiga besar negara dengan beban TBC tertinggi di dunia. Tingginya angka penularan tidak terlepas dari rendahnya deteksi dini serta banyaknya pasien yang tidak menyelesaikan pengobatan. Di tingkat layanan dasar, berbagai kendala juga masih ditemui, seperti pasien yang mangkir dari pengobatan, pelacakan kontak yang belum optimal, serta sistem pencatatan yang masih manual sehingga rawan keterlambatan dan kesalahan data.

Sebelum adanya inovasi ini, penanganan TBC cenderung bersifat pasif. Pasien harus datang sendiri ke fasilitas kesehatan, sementara pemantauan di rumah masih terbatas. Akibatnya, tidak sedikit pasien yang berhenti berobat di tengah jalan, yang berisiko menyebabkan resistensi obat dan meningkatkan penularan di masyarakat.
Melalui TOBAT ORA KUMAT, pendekatan pelayanan diubah menjadi lebih aktif dan menyeluruh. Program ini mengusung konsep “temukan, obati, dan pantau sampai tuntas” dalam satu sistem terpadu. Petugas kesehatan bersama kader melakukan skrining aktif di masyarakat, termasuk pada kelompok berisiko tinggi seperti keluarga pasien dan lingkungan padat. Setelah pasien terdiagnosis, pengobatan langsung diberikan sesuai standar, dan yang menjadi pembeda adalah adanya pemantauan intensif secara berkelanjutan. Pasien tidak hanya dipantau saat datang ke puskesmas, tetapi juga melalui kunjungan langsung ke rumah untuk memastikan kepatuhan minum obat.
Selain itu, inovasi ini juga memperkuat pelacakan kontak erat pasien. Keluarga dan orang terdekat pasien diperiksa secara rutin untuk mendeteksi kemungkinan penularan sejak dini. Jika ditemukan pasien yang mangkir, petugas akan melakukan kunjungan rumah dan koordinasi lintas fasilitas kesehatan agar pengobatan dapat dilanjutkan. Sistem pencatatan dan pelaporan juga dibuat lebih terstruktur dan terjadwal, menggunakan standar nasional formulir TBC yang terintegrasi dengan program kabupaten. Hal ini memudahkan pemantauan perkembangan pasien secara berkala, termasuk evaluasi hasil pengobatan.
Sejak diterapkan, TOBAT ORA KUMAT menunjukkan dampak positif dalam pengendalian TBC. Angka pasien yang putus obat mulai menurun, sementara kepatuhan pengobatan meningkat karena adanya pendampingan intensif. Deteksi kasus baru juga menjadi lebih cepat berkat pendekatan jemput bola yang dilakukan secara aktif. Dampak lainnya adalah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap penyakit TBC. Melalui edukasi rutin, masyarakat menjadi lebih memahami gejala, cara penularan, serta pentingnya pengobatan hingga tuntas.
Dalam jangka panjang, inovasi ini diharapkan mampu menekan angka penularan dan mencegah munculnya kasus TBC resisten obat. Dengan pendekatan yang terintegrasi dan melibatkan berbagai pihak, TOBAT ORA KUMAT menjadi langkah nyata dalam memperkuat upaya kesehatan masyarakat menuju derajat kesehatan yang lebih optimal.