Ngawi – Siapa sangka buah Mojo yang selama ini kurang diminati ternyata bisa menjadi bahan pestisida alami yang bermanfaat? Inilah yang melatarbelakangi lahirnya inovasi LIMOSIDA (Limbah Mojo untuk Pestisida) dari SMPN 2 Jogorogo, sebuah sekolah yang berada di lereng Gunung Lawu dengan lahan hijau yang sangat luas.

Dengan kondisi sekolah yang dikelilingi pohon Mojo, Gadung, hingga Mindi, banyak buah Mojo yang sebelumnya hanya terbuang percuma. Dari sinilah muncul gagasan untuk mengolah limbah Mojo menjadi pestisida nabati yang aman bagi manusia dan ramah lingkungan. Ide sederhana ini kemudian berkembang menjadi program sekolah yang melibatkan seluruh warga dalam upaya pemanfaatan limbah menjadi produk bermanfaat.
Program ini menjawab kebutuhan besar di bidang pertanian, khususnya di Kabupaten Ngawi yang sebagian besar warganya adalah petani. Selama ini penggunaan pestisida kimia cukup tinggi, sehingga diperlukan alternatif yang lebih aman bagi tanah, air, dan kesehatan masyarakat. Mojo menjadi solusi karena mengandung senyawa aktif yang efektif mengusir hama tanpa merusak ekosistem.
LIMOSIDA melibatkan seluruh warga sekolah seperti guru, tenaga kependidikan, hingga siswa untuk ikut mengembangkan produksi pestisida alami. Kegiatan dimulai dari pengumpulan buah Mojo yang jatuh di area sekolah, pengolahan di kebun, hingga pengujian pada tanaman di lingkungan sekolah. Tidak hanya itu, siswa juga diajak memahami manfaat tanaman lokal yang sering dianggap tidak berguna.
Sebelum inovasi diterapkan, banyak buah Mojo terbuang, tanaman di sekolah sering terserang hama, dan biaya perawatan kebun cukup besar. Kini kondisinya jauh berbeda. Pohon Mojo mulai dijaga dan dikembangkan, tanaman sekolah terlihat lebih sehat, dan biaya pemeliharaan menurun karena pestisida dapat diproduksi sendiri dari bahan alami yang tersedia melimpah.
Selain menghasilkan pestisida ramah lingkungan, LIMOSIDA juga membawa manfaat lain. Munculnya kesadaran baru akan pentingnya menjaga alam, pemanfaatan limbah organik, serta gaya hidup berkelanjutan semakin ditanamkan kepada siswa. Program ini juga mendorong masyarakat sekitar untuk mencoba menggunakan pestisida herbal sebagai alternatif yang lebih aman.
Inovasi ini berkembang pesat berkat dukungan berbagai pihak. Program pelatihan, bimtek, buku panduan, hingga jejaring kerja dengan perangkat daerah membuat LIMOSIDA semakin matang. Bahkan inovasi ini mulai direplikasi di beberapa daerah lain karena dipandang mudah diterapkan, hemat biaya, dan berdampak nyata.
Dengan hadirnya LIMOSIDA, SMPN 2 Jogorogo bukan hanya sukses mengubah limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat, tetapi juga memberikan contoh bahwa inovasi bisa muncul dari hal-hal sederhana di sekitar kita. Sekolah berharap ke depan pestisida Mojo ini dapat digunakan lebih luas, tidak hanya untuk lingkungan sekolah, tetapi juga untuk pertanian masyarakat Desa Jogorogo dan sekitarnya.