Ngawi – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kebiasaan membaca perlahan mulai tergerus oleh dominasi gawai dan media sosial. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan, khususnya dalam menumbuhkan budaya literasi di kalangan siswa. Menjawab tantangan tersebut, SMP Negeri 2 Karangjati menghadirkan inovasi GELIS (Gerakan Literasi Siswa) sebagai upaya membangun kembali semangat membaca yang mulai memudar.

Program ini lahir dari keprihatinan terhadap rendahnya minat baca siswa, meskipun fasilitas seperti perpustakaan dan koleksi buku sudah tersedia cukup memadai. Siswa cenderung membaca hanya saat ada tugas, bukan sebagai kebutuhan atau kebiasaan sehari-hari. Akibatnya, kemampuan memahami materi, berpikir kritis, hingga mengekspresikan gagasan juga ikut terpengaruh.
Melalui GELIS, sekolah menghadirkan pendekatan baru yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Kegiatan literasi dijadwalkan secara rutin tiga kali dalam seminggu, yaitu setiap hari Selasa, Rabu, dan Kamis sebelum pembelajaran dimulai. Selama 20 menit, siswa diajak untuk fokus membaca buku pilihan mereka masing-masing, sehingga tumbuh rasa nyaman dan keterikatan terhadap kegiatan membaca.
Agar program berjalan optimal, seluruh guru dilibatkan sebagai pembimbing literasi. Tidak hanya guru Bahasa Indonesia, tetapi semua guru memiliki peran dalam memastikan siswa membaca dengan baik dan memahami isi bacaan. Pendekatan ini menjadikan literasi sebagai tanggung jawab bersama, bukan hanya program tambahan semata.
Menariknya, setiap siswa diberi kebebasan memilih buku sesuai minat mereka. Selain itu, terdapat sistem rotasi buku setiap bulan, sehingga siswa dapat memperluas wawasan bacaan. Tidak berhenti pada aktivitas membaca, siswa juga diminta membuat catatan atau rangkuman sebagai bentuk refleksi dari apa yang telah mereka pelajari.
Lalu, apa yang membuat GELIS berbeda dari program literasi lainnya? Kunci utamanya terletak pada konsistensi dan sistem evaluasi yang jelas. Dengan adanya rangkuman mingguan dan bulanan, guru dapat memantau perkembangan kemampuan literasi siswa secara terukur. Bahkan, siswa dengan capaian terbaik akan mendapatkan penghargaan sebagai bentuk apresiasi dan motivasi.
Dampak dari program ini mulai terlihat secara nyata. Siswa menjadi lebih terbiasa membaca, memiliki rasa ingin tahu yang lebih tinggi, serta mampu berpikir lebih kritis dalam memahami informasi. Lingkungan sekolah pun berubah menjadi lebih kondusif sebagai ruang belajar yang aktif dan inspiratif.
Lebih dari sekadar program membaca, GELIS adalah gerakan budaya yang menanamkan kebiasaan belajar sepanjang hayat. SMPN 2 Karangjati Ngawi membuktikan bahwa dengan langkah sederhana namun konsisten, literasi dapat tumbuh menjadi kekuatan besar dalam membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.