Ngawi – Di tengah meningkatnya persoalan sampah dan rendahnya kesadaran lingkungan di kalangan pelajar, sekolah dituntut menghadirkan solusi nyata yang tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi juga membentuk karakter siswa. SMPN 3 Kedunggalar menjawab tantangan tersebut melalui inovasi PELITA SPENTIK (Pengolahan Limbah untuk Taman Asri SMPN 3 Kedunggalar), sebuah gerakan terpadu yang mengubah limbah menjadi sumber pembelajaran dan keindahan lingkungan sekolah.

Lalu, mengapa inovasi ini menjadi penting? Karena selama ini pengelolaan sampah di lingkungan sekolah masih bersifat konvensional dan belum terintegrasi dengan pembelajaran. Sampah organik dan anorganik sering kali menumpuk, sementara ruang hijau belum dimanfaatkan secara optimal sebagai media edukasi. Kondisi ini mendorong sekolah untuk menghadirkan solusi yang tidak hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga menanamkan nilai tanggung jawab dan kepedulian sejak dini.
Program PELITA SPENTIK dirancang dengan pendekatan sistematis berbasis aksi nyata. Melalui program ini, siswa dilibatkan langsung dalam proses pemilahan sampah, pengolahan limbah organik menjadi kompos menggunakan metode komposter sederhana, serta pemanfaatan limbah anorganik menjadi kerajinan dan dekorasi taman. Hasil dari proses tersebut kemudian digunakan untuk membangun dan merawat taman sekolah yang asri, sehingga lingkungan belajar menjadi lebih nyaman sekaligus edukatif.
Lebih dari sekadar kegiatan kebersihan, PELITA SPENTIK terintegrasi dengan pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) dalam Kurikulum Merdeka. Siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mengalami proses nyata bagaimana limbah dapat diolah menjadi sesuatu yang bernilai. Program ini juga diperkuat dengan pembentukan tim Green Agents, yaitu kelompok siswa yang berperan sebagai penggerak dan duta pelestarian lingkungan di sekolah.
Jika sebelumnya kegiatan lingkungan berjalan secara sporadis dan kurang terarah, kini melalui inovasi ini seluruh aktivitas pengelolaan limbah menjadi lebih terstruktur, terjadwal, dan berkelanjutan. Bahkan, keberhasilan program diukur secara jelas melalui indikator seperti penurunan volume sampah, jumlah kompos yang dihasilkan, serta peningkatan kualitas dan estetika taman sekolah.
Lalu, apa yang membuat PELITA SPENTIK layak menjadi inovasi unggulan? Jawabannya terletak pada kemampuannya mengintegrasikan pengelolaan lingkungan, pembelajaran kontekstual, dan pembentukan karakter dalam satu sistem yang sederhana namun berdampak luas. Inovasi ini tidak hanya mengubah cara sekolah mengelola sampah, tetapi juga membentuk pola pikir siswa agar lebih peduli terhadap keberlanjutan lingkungan.
Seiring implementasinya, dampak positif mulai terlihat. Lingkungan sekolah menjadi lebih bersih dan hijau, siswa menunjukkan perubahan perilaku yang lebih disiplin dan bertanggung jawab, serta tercipta budaya gotong royong yang kuat di antara warga sekolah. Selain itu, inovasi ini juga menghasilkan perangkat pendukung seperti SOP pengelolaan sampah dan modul edukasi yang dapat direplikasi oleh sekolah lain.
Dengan demikian, PELITA SPENTIK bukan hanya sekadar program lingkungan, tetapi telah berkembang menjadi gerakan pendidikan karakter berbasis aksi nyata. Inovasi ini diharapkan mampu mencetak generasi yang peduli lingkungan, kreatif, dan siap berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Ngawi.