Ngawi – Komitmen Pemerintah Kabupaten Ngawi dalam mengatasi persoalan stunting dan Kurang Energi Kronis (KEK) di kalangan ibu hamil terus diperkuat lewat berbagai inovasi desa. Salah satu program unggulan yang kini mendapat perhatian dari Inspektorat Kabupaten Ngawi dan dorongan penuh dari Bappeda adalah inisiatif “Orang Tua Asuh Balita Stunting dan Ibu Hamil KEK” dari Desa Ngale, Kecamatan Paron. Inovasi ini membuktikan bahwa pendekatan berbasis komunitas, jika dijalankan secara kolaboratif dan terencana, mampu menjadi solusi konkret dalam mempercepat penurunan stunting secara berkelanjutan.
Program ini menargetkan balita dan ibu hamil yang terindikasi mengalami masalah gizi kronis. Sebanyak 13 balita stunting dan 3 ibu hamil KEK menjadi sasaran utama intervensi sosial dan kesehatan yang dilakukan secara menyeluruh. Melibatkan peran aktif Bidan Desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, TP-PKK, dan Puskesmas Paron, pelaksanaan program ini tidak hanya fokus pada pemberian makanan tambahan (PMT), tetapi juga pada pemantauan kesehatan dan edukasi gizi yang berkesinambungan. Dengan semangat gotong royong, setiap aktor desa berperan sebagai “orang tua asuh” yang memberikan perhatian langsung pada tumbuh kembang balita dan kesehatan ibu hamil.
Bappeda Kabupaten Ngawi melihat program ini sebagai salah satu inovasi desa yang mampu menjawab tantangan pembangunan manusia dari akar rumput. “Orang Tua Asuh bukan sekadar program bantuan, tapi bentuk nyata dari kepedulian sosial berbasis desa yang bisa direplikasi. Ini sejalan dengan visi Kabupaten Ngawi menciptakan generasi unggul sejak dari dalam kandungan,” ujar perwakilan Bappeda. Melalui sinergi antar perangkat desa dan sektor kesehatan, program ini memberikan pendekatan holistik yang berfokus pada early intervention — menekan risiko stunting sejak awal dan mengurangi kasus KEK yang berpotensi membahayakan ibu dan janin.
Sementara itu, Inspektorat Kabupaten Ngawi menilai program ini memiliki potensi besar sebagai model tata kelola inovasi yang akuntabel dan berorientasi hasil. Dengan sistem pemantauan yang ketat, laporan berkala, serta pelibatan multisektor, program ini mencerminkan prinsip pemerintahan yang responsif dan transparan. Inspektorat mendukung upaya desa-desa yang ingin mengadopsi model serupa, sekaligus memastikan bahwa setiap program tetap berada dalam koridor regulasi dan tepat sasaran. Desa Ngale kini menjadi contoh inspiratif bahwa inovasi tidak selalu harus berbasis teknologi tinggi, tetapi bisa lahir dari empati sosial dan keberanian untuk berbuat nyata bagi masyarakat.
Melalui pendekatan terintegrasi ini, diharapkan program Orang Tua Asuh Balita Stunting dan Bumil KEK dapat menginspirasi desa-desa lain di Kabupaten Ngawi untuk menginisiasi program serupa. Tidak hanya demi menurunkan angka stunting dan KEK, tetapi juga demi menciptakan ekosistem desa yang peduli terhadap masa depan generasi penerus. Dengan dukungan Bappeda, pengawasan Inspektorat, serta peran aktif masyarakat desa, program ini menandai langkah besar Ngawi menuju daerah yang sehat, inklusif, dan berdaya secara mandiri.