Kemiskinan masih menjadi PR paling besar di Kabupaten Ngawi. Data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 menunjukkan jumlah keluarga miskin mencapai 123.764 atau sekitar 14,91 persen dari total penduduk. Angka ini menjadi dasar lahirnya inovasi Puskesos Bima Sakti (Membina Masyarakat Menuju Sejahtera Makmur Sehat dan Mandiri) yang digagas oleh Dinas Sosial Kabupaten Ngawi. Inovasi ini mulai diuji coba pada Januari 2023 dan resmi diimplementasikan pada Februari 2023. Lahirnya inovasi Bima Sakti ini menandai perubahan penting dalam cara pemerintah daerah menangani kemiskinan dengan tidak lagi parsial dan sektoral, melainkan terkoordinasi, terukur, dan berkelanjutan.
Selama ini, penanganan kemiskinan di Ngawi kerap terkendala data yang tidak valid serta tumpang tindih kebijakan antar-OPD. Ada keluarga yang sebenarnya sudah tidak miskin tetapi masih menerima bantuan, sementara keluarga yang benar-benar miskin justru terabaikan. Puskesos Bima Sakti hadir sebagai jawaban atas persoalan tersebut dengan menyediakan sistem terpadu yang memadukan pendataan, verifikasi, penyaluran bantuan, hingga evaluasi. Data keluarga miskin diperbarui secara berkala dengan melibatkan desa dan kelurahan, sehingga hasilnya lebih akurat dan bisa dijadikan dasar semua intervensi. Pendekatan ini digunakan untuk mengklasifikasikan keluarga sangat miskin yang tidak potensial diberikan jaminan sosial, sedangkan keluarga miskin potensial diarahkan pada program pemberdayaan ekonomi. Artinya, bantuan bukan hanya sekadar memberi, tetapi juga membuka jalan menuju kemandirian.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Ngawi menegaskan bahwa Puskesos Bima Sakti adalah komitmen nyata pemerintah daerah dalam membangun keadilan sosial, “Kami ingin memastikan setiap bantuan benar-benar tepat sasaran. Inovasi yang diciptakan dapat menyatukan langkah semua OPD, sehingga tidak ada lagi ego sektoral dalam menangani kemiskinan,” ujarnya. Dukungan Bappeda menjadi penguat karena sejak awal mendorong lahirnya inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Program ini pun sejalan dengan prinsip ‘Asta Cita’ pembangunan daerah, yakni membangun dari desa untuk pemerataan ekonomi dan kesejahteraan. Selain itu, kerja lintas sektor juga terus digencarkan agar program tidak berhenti di tingkat kebijakan, melainkan berjalan nyata di lapangan.
Hasil penerapan Puskesos Bima Sakti mulai terlihat. Satu data kemiskinan yang terintegrasi kini menjadi rujukan bersama, membuat penyaluran bantuan lebih cepat dan tepat, serta memudahkan monitoring maupun evaluasi. Tidak hanya itu, inovasi ini bahkan mulai direplikasi oleh beberapa daerah lain seperti Blitar, Madiun, dan Magetan, yang melihat efektivitas sistem ini dalam menekan kesalahan sasaran. Bagi masyarakat miskin di Ngawi, kehadiran Puskesos Bima Sakti membawa harapan baru akses terhadap bantuan lebih terbuka, peluang pemberdayaan lebih jelas, dan kesempatan keluar dari jerat kemiskinan makin nyata. Kabupaten Ngawi meneguhkan diri sebagai daerah yang tidak sekadar peduli pada angka statistik saja, melainkan serius membangun kesejahteraan warganya melalui langkah sistematis, transparan, dan berkelanjutan.