Rendahnya minat baca anak-anak di Indonesia menjadi persoalan serius yang berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia di masa depan. Di sisi lain, derasnya arus teknologi dan globalisasi membuat anak-anak rentan pada krisis karakter. Menjawab tantangan itu, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Ngawi meluncurkan inovasi DANSA CERIA (Dongeng Anak Sekolah, Cerdas dan Riang Gembira). Inovasi yang mulai diimplementasikan sejak Februari 2023 ini menggandeng komunitas Kampung Dongeng (KADO) Ngawi Ramah, HIMPAUDI, dan IGTKI untuk menghadirkan dongeng sebagai sarana literasi sekaligus pendidikan karakter bagi anak-anak PAUD, TK, SD, bahkan SLB.
Program DANSA CERIA dilakukan dengan pendekatan jemput bola. Alih-alih menunggu anak-anak datang ke perpustakaan, pustakawan dan pendongeng profesional mendatangi sekolah-sekolah dengan membawa kisah dongeng nusantara. Metode ini menjadikan literasi lebih menyenangkan karena dipadukan dengan alat peraga, permainan edukatif, hingga media visual yang menarik. Dalam dua tahun terakhir, sudah ratusan sekolah dan ribuan siswa terlibat aktif, termasuk 2.706 siswa PAUD/TK pada 2023 dan 55 lembaga sekolah di tahun 2024. Tak hanya itu, program ini juga menyasar anak berkebutuhan khusus melalui kunjungan ke Sekolah Luar Biasa (SLB), memastikan semua anak mendapat akses literasi kreatif tanpa terkecuali.
Kepala Dispersip Ngawi menegaskan bahwa dongeng bukan sekadar hiburan, tetapi media yang efektif menanamkan nilai moral, memperkuat identitas budaya lokal, serta merangsang daya imajinasi anak. “Melalui cerita rakyat nusantara, anak-anak belajar sopan santun, kejujuran, serta keberanian mengambil keputusan. Kami ingin membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter kuat,” jelasnya. Program ini juga menjadi bukti transformasi perpustakaan dari sekadar tempat penyimpanan buku menjadi pusat inovasi literasi kreatif yang aktif, inspiratif, dan dekat dengan anak-anak. Dukungan stakeholder lintas sektor membuat DANSA CERIA semakin kokoh dan berkelanjutan.
Dampak positif program ini mulai terasa nyata. Minat baca anak meningkat, imajinasi mereka semakin terasah, dan sekolah pun mendapatkan suasana belajar yang lebih hidup. Masyarakat juga merasakan manfaat karena anak-anak menjadi lebih kritis dan terbiasa menyerap nilai moral sejak dini. Keberhasilan program ini bahkan telah direplikasi di daerah lain seperti Madiun, Blitar, dan Sragen. Dengan inovasi DANSA CERIA, Ngawi meneguhkan diri sebagai daerah yang serius membangun fondasi sumber daya manusia sejak dini, membuktikan bahwa dongeng tradisional masih relevan sebagai sarana pendidikan karakter dan literasi di era digital.