TEKAT MEMBARA: Desa Mantingan Menghidupkan Lahan Tandus untuk Sehat, Budaya, dan Ekonomi

Desa Mantingan, Kabupaten Ngawi, kini memiliki program unggulan yang mengubah lahan tandus seluas 5 hektar menjadi pusat kegiatan bermanfaat. Dahulu, lahan itu terbengkalai. Oleh karena itu, Pemerintah Desa dan warga membangun TEKAT MEMBARA (Tempat Masyarakat Menyehatkan Jiwa dan Raga). Program ini menjadi ruang terbuka sekaligus destinasi wisata yang menghubungkan kawasan Gunung Kendil di Desa Jatimulyo. Warga membuat kolam ikan, spot swafoto, serta memperbaiki jalan, kamar mandi, dan listrik. Meskipun demikian, pandemi Covid-19 sempat memperlambat pembangunan. Namun, tekad warga tetap kuat untuk menghidupkan lahan itu.

Warga memanfaatkan Grebeg Mantingan untuk memperkenalkan budaya dan sejarah lokal. Mereka menggelar kirab budaya, gunungan, dan bergodo. Selain itu, mereka menampilkan kesenian lokal seperti Reog dan Tari Klanthung. Tari Klanthung menjadi pengingat sejarah panjang, termasuk tragedi kelaparan akibat wabah PES pada era kolonial Belanda. Dengan demikian, acara ini menumbuhkan rasa bangga masyarakat. Lahan produktif ini juga menjadi ruang melestarikan jati diri dan warisan leluhur.

TEKAT Membara Sebagai Ruang Publik Multifungsi

Warga memanfaatkan TEKAT MEMBARA untuk olahraga, berkemah, dan kegiatan sosial. Area ini menjadi lokasi Kejurda IOF Jatim Open Putaran III Adventure Racing Off Road. Setelah itu, warga kembali memperbaiki lahan yang rusak. Kini, area 5 hektar itu berfungsi sebagai ruang publik sehat, bermanfaat, dan bernilai ekonomi.

TEKAT MEMBARA menghadirkan manfaat nyata. Warga memiliki ruang terbuka untuk aktivitas sehat. Kelompok seni menampilkan karya, pelajar mengadakan kegiatan edukatif, dan pelaku UMKM memasarkan produk lokal. Selain itu, program ini menjadi simbol kebangkitan desa. Dukungan pemerintah daerah dan partisipasi aktif masyarakat membuktikan desa mampu bertransformasi. TEKAT MEMBARA menjaga keseimbangan antara kesehatan, budaya, dan ekonomi warga.

Scroll to Top