Inovasi SEGARA SIAGA (Senam Kebugaran Lansia Begal) dirancang sebagai solusi lokal untuk menjaga kesehatan para lanjut usia di Desa Tempuran, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi. Senam ini dirancang khusus agar ringan namun efektif memanfaatkan gerakan sederhana yang mudah diikuti untuk memicu sirkulasi darah, memperkuat otot, dan meningkatkan fleksibilitas tubuh. Selain manfaat fisik, program ini juga terbukti meningkatkan suasana hati dan kualitas tidur para lansia, membantu mereka tetap aktif secara mental dan sosial di tengah kehidupan sehari-hari yang cenderung menurun aktivitasnya
Pelaksanaan SEGARA SIAGA dilakukan secara terstruktur dan rutin di balai desa atau aula pertemuan. Setiap sesi dibuka dengan pemanasan ringan, diikuti rangkaian gerakan utama yang menitikberatkan pada teknik pernapasan, peregangan lembut, dan aktivasi sendi menghindari tekanan ekstrem pada tubuh lansia. Peserta yang rata-rata berusia di atas 60 tahun melakukan gerakan-gerakan yang diadaptasi dari aktivitas harian sederhana seperti mengangkat tangan, membungkuk ringan, dan berjalan di tempat. Lewat musik ringan yang menenangkan dan gaya instruksi persuasif, instruktur menjaga agar suasana tetap ceria sekaligus aman. Rantai manfaat fisik, mental, dan emosional semakin terasa ketika mereka bergandeng tangan dan saling memberi semangat dalam suasana penuh kebersamaan
Sejak penerapan SEGARA SIAGA, dampak positif mulai terukur. Para lansia menunjukkan peningkatan daya tahan fisik mereka tidak mudah lelah saat berjalan atau melakukan aktivitas ringan sepanjang hari. Kualitas tidur juga membaik, dan penghayatan terhadap hari-hari menjadi lebih bersemangat. Tak kalah penting, aspek psikologis mendapat perhatian: melalui senam bersama, rasa kesepian berkurang dan mereka merasa lebih terhubung dengan komunitas. Inisiasi ini memperkuat rasa keterlibatan, kesegaran jiwa, sekaligus membentuk rutinitas sosial yang berkelindan dengan kesehatan fisik.
Melihat hasil signifikan SEGARA SIAGA, Pemdes dan kader kesehatan berencana memperluas cakupan gerakan ini. Rencana selanjutnya meliputi pelatihan instruktur tambahan agar lebih banyak lansia yang terlibat, penyediaan panduan senam digital yang bisa diakses keluarga, serta integrasi senam dengan pemeriksaan kesehatan rutin berupa posyandu lansia. Jika dikembangkan lebih luas, program ini tak sekadar menjaga kebugaran fisik, tapi merawat martabat dan kemandirian lansia menjadikan mereka bukan hanya bagian dari desa, tetapi bagian yang merasakan ditopang dan diperhatikan secara komprehensif.