Desa Jeblogan, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, membuktikan bahwa kreativitas bisa melahirkan kemandirian ekonomi desa. Melalui program TERPADU BERDAYA (Ternak, POC, dan Hidroponik Bersama Daya Saing Desa), warga berhasil mengintegrasikan peternakan, pengolahan limbah ternak, dan pertanian hidroponik menjadi satu kesatuan usaha yang saling menopang. Inovasi ini muncul karena masyarakat sadar bahwa pertanian konvensional yang bergantung pada musim dan pupuk kimia tidak cukup lagi untuk meningkatkan kesejahteraan.

Warga Jeblogan kini mengolah limbah ternak menjadi Pupuk Organik Cair (POC), lalu memanfaatkannya untuk menanam sayuran hidroponik di pekarangan rumah. Pemerintah desa melatih masyarakat agar mampu mengelola seluruh rantai usaha: mulai dari beternak, membuat pupuk, hingga memasarkan sayuran hidroponik. Bahkan, BUMDes ikut berperan sebagai distributor pupuk dan hasil panen ke pasar lokal maupun sekolah. Dengan sistem ini, desa tidak hanya memproduksi pangan sehat, tetapi juga menjaga lingkungan tetap bersih.
Hasil nyata dari program ini sudah terlihat. Lebih dari 50 rumah tangga menanam hidroponik, sementara produksi POC mencapai ratusan liter per bulan. Pendapatan keluarga pun naik sekitar 20–30 persen berkat usaha terpadu ini. Anak-anak desa ikut merasakan manfaat karena mereka kini lebih mudah mendapatkan sayuran segar hasil panen orang tuanya. Kepala Desa Jeblogan menegaskan, “TERPADU BERDAYA membuktikan bahwa desa bisa mandiri dengan memanfaatkan potensi lokal.”
Ke depannya, Desa Jeblogan akan memperluas program dengan mendistribusikan starter kit hidroponik, memperkuat peran BUMDes, serta menjalin kerja sama lintas daerah. Inovasi ini bahkan sudah direplikasi di beberapa wilayah lain seperti Sragen, Trenggalek, dan Bangkalan. Semangat gotong royong, TERPADU BERDAYA membuka jalan bagi desa untuk mandiri, berdaya saing, sekaligus ramah lingkungan.