Puskesmas Kendal, Kabupaten Ngawi, meluncurkan inovasi bernama RAPETIN (Gerakan Penyuluhan Rutin Penyakit Tidak Menular) sebagai jawaban atas meningkatnya kasus hipertensi di masyarakat. Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang paling berbahaya karena dapat memicu komplikasi serius seperti stroke dan serangan jantung. Sayangnya, kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini dan menjaga pola hidup sehat masih rendah. Melalui RAPETIN, Puskesmas Kendal berupaya menghadirkan penyuluhan yang terstruktur, rutin, dan dekat dengan warga, sehingga edukasi kesehatan tidak lagi bersifat musiman tetapi menjadi bagian dari kebiasaan kolektif masyarakat.

Inovasi RAPETIN lahir dari kondisi nyata di lapangan. Sebelum adanya program ini, penyuluhan kesehatan hanya dilakukan sesekali dan belum secara khusus menarget penyakit tidak menular seperti hipertensi. Banyak warga yang baru datang ke puskesmas setelah kondisi mereka memburuk, sehingga pendekatan promotif dan preventif belum berjalan optimal. Melalui RAPETIN, penyuluhan kini dilaksanakan secara bergilir ke desa-desa dan dusun, melibatkan kader kesehatan, tokoh masyarakat, hingga organisasi lokal. Materi edukasi yang disampaikan tidak hanya tentang hipertensi, tetapi juga perilaku CERDIK (Cek kesehatan berkala, Enyahkan rokok, Rajin beraktivitas, Diet sehat, Istirahat cukup, Kelola stres) dan PATUH (Periksa rutin, Atasi penyakit dengan pengobatan, Tetap diet seimbang, Upayakan aktivitas fisik, Hindari asap rokok dan alkohol).
Keunggulan RAPETIN terletak pada pendekatan berbasis komunitas dan data. Setiap kegiatan penyuluhan didasarkan pada pemetaan kasus hipertensi dari Sistem Informasi Puskesmas, sehingga intervensi menjadi lebih tepat sasaran. Penyuluhan pun tidak terbatas di puskesmas, melainkan hadir langsung di balai desa, masjid, posyandu, hingga tempat kerja warga. Kegiatan dikemas interaktif melalui ceramah, diskusi, kuis, simulasi cek tekanan darah, hingga pembagian leaflet edukatif. Dengan cara ini, masyarakat lebih mudah memahami risiko hipertensi sekaligus terdorong untuk melakukan pencegahan sejak dini. Bahkan, pendekatan “teman sebaya” turut digunakan, di mana tokoh lokal atau kader desa ikut memberikan penyuluhan agar pesan lebih mudah diterima, terutama oleh kelompok lansia.

Dampak positif dari RAPETIN mulai terlihat setelah beberapa bulan berjalan. Masyarakat semakin terbiasa melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin dan memahami pentingnya menjaga pola makan serta berolahraga. Data menunjukkan adanya peningkatan jumlah penderita hipertensi yang tekanan darahnya terkendali, serta menurunnya kasus yang tidak terpantau. Selain itu, tingkat kepuasan masyarakat terhadap layanan kesehatan juga meningkat karena merasa lebih dekat dengan tenaga kesehatan dan mendapatkan informasi yang jelas. Inovasi RAPETIN membuktikan bahwa upaya sederhana berupa penyuluhan rutin, bila dijalankan secara konsisten dan partisipatif, mampu menjadi langkah nyata dalam menurunkan angka hipertensi sekaligus meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Ngawi.