Dalam rangka memperkuat ketahanan pangan lokal, Desa Banyuurip menghadirkan sebuah inovasi berbasis pemanfaatan lahan produktif melalui program KEPAL LESTARI URIP (Kebun Pangan Lestari banyuurip). Program ini merupakan rancang bangun kebun pangan desa yang bertujuan untuk menyediakan sumber pangan segar, sehat, dan berkelanjutan bagi masyarakat. Ide dasarnya berangkat dari keprihatinan akan banyaknya lahan atau pekarangan tidak produktif yang bisa diubah menjadi sumber pangan lokal. Melalui pendekatan berbasis masyarakat, kebun pangan ini juga sekaligus menjadi sarana pemberdayaan, edukasi, serta penguatan ekonomi masyarakat, terutama bagi kelompok perempuan, pemuda, dan petani desa. Dengan keberadaan kebun pangan, warga tidak hanya dapat mengakses sayur, buah, rempah, dan tanaman herbal secara langsung, namun juga turut serta dalam membangun kemandirian dan gotong royong desa.

Pelaksanaan kebun pangan dilakukan di atas lahan milik masyarakat yang secara sukarela dioptimalkan untuk program ini, dengan ukuran minimal sekitar 500 meter persegi dan memiliki akses air yang memadai. Komponen kebun meliputi tanaman pangan seperti cabai, tomat, kangkung, dan singkong; buah seperti pepaya, pisang, dan jeruk; hingga rempah seperti jahe dan kunyit. Didukung fasilitas seperti sistem irigasi tetes, komposter organik, rumah bibit, hingga pagar pelindung, kebun ini dikelola dengan metode pertanian organik yang ramah lingkungan. Strategi pelaksanaan dilakukan secara bertahap, mulai dari survei dan perencanaan lahan, pelatihan budidaya tanaman, pembuatan pupuk dan pestisida alami, hingga proses panen dan distribusi hasil kebun. Semua kegiatan dilaksanakan bersama kelompok tani, kader PKK, dan pemuda karang taruna sebagai ujung tombak gerakan.
Tujuan utama dari KEPAL LESTARI URIP tidak hanya sebatas mencukupi pangan, tetapi juga mengangkat kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan aktif. Program ini menyasar peningkatan konsumsi pangan sehat, edukasi gizi keluarga, serta menurunkan ketergantungan masyarakat terhadap pasar luar desa. Hasil panen yang melimpah juga membuka peluang usaha mikro, baik dalam bentuk penjualan langsung maupun pengolahan produk turunan, seperti olahan sayur kering, sambal botol, atau jamu herbal. Dalam jangka panjang, keberadaan kebun pangan juga menjadi alat edukasi yang bermanfaat bagi anak-anak dan remaja desa untuk mengenal pertanian sejak dini, sekaligus menanamkan nilai menjaga lingkungan secara berkelanjutan. Masyarakat belajar mengelola kompos, menjaga kualitas tanah, dan menerapkan pertanian alami yang memelihara ekosistem lokal.
Dari sisi manfaat, program ini berhasil membuktikan bahwa dengan dukungan partisipatif warga, desa bisa mandiri dalam hal pangan. Selain menciptakan lingkungan yang hijau dan produktif, kebun pangan juga mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif akan pentingnya kedaulatan pangan lokal. Indikator keberhasilannya terlihat dari aktifnya partisipasi warga, peningkatan konsumsi produk lokal, hingga terbentuknya tim pengelola desa yang siap menjaga keberlanjutan program. Harapannya, KEPAL LESTARI URIP bisa terintegrasi dengan program pemerintah lainnya seperti ketahanan pangan desa, desa ramah lingkungan, atau bahkan pengembangan desa wisata edukatif. Ke depan, Desa Banyuurip berkomitmen menjadikan kebun pangan sebagai simbol perubahan menuju desa yang sehat, mandiri, dan lestari.