Bappeda Ngawi Soroti Inovasi Desa di Pangkur: Toga, Belimbing Wuluh, hingga Paving Block dari Sampah Jadi Andalan Baru

Ngawi — Bappeda Kabupaten Ngawi melalui Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) melakukan kunjungan KKN-T Berdampak ke beberapa desa di Kecamatan Pangkur pada Kamis (20/11/2025). Kegiatan ini menjadi ajang penting untuk melihat langsung potensi lokal, kreativitas masyarakat, serta kontribusi mahasiswa Universitas PGRI Madiun (UNIPMA) dalam mendukung pembangunan berbasis desa.

Rombongan mengawali kunjungan di Desa Gandri, yang dikenal sebagai sentra budidaya tanaman obat keluarga (Toga). Mahasiswa KKN-T UNIPMA terlibat aktif dalam pendampingan pengelolaan Toga, mulai dari penataan kebun, pembuatan produk turunan, hingga edukasi manfaat tanaman kepada warga. Penguatan sektor Toga ini diharapkan mampu meningkatkan pemanfaatan tanaman herbal sebagai solusi kesehatan keluarga sekaligus peluang usaha kecil.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Desa Paras, pusat olahan belimbing wuluh yang tengah meningkat pamornya sebagai komoditas ekonomi kreatif. Para mahasiswa berperan dalam membantu inovasi produk, seperti pengembangan sirup, manisan, hingga bahan dasar kuliner. Inovasi ini bertujuan memperluas pasar, meningkatkan nilai tambah, dan mendorong produk lokal agar dapat bersaing di tingkat daerah maupun nasional.

Kunjungan terakhir dilakukan di Desa Sumber, yang sukses mengembangkan program pembuatan paving block berbahan sampah hasil pilah. Inovasi ini mendapat perhatian khusus dari Bappeda karena tidak hanya memperkuat pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat, tetapi juga membuka lapangan kerja baru. Program ini dinilai sebagai langkah cerdas dalam mengintegrasikan pengurangan sampah, pemberdayaan warga, dan peningkatan ekonomi desa secara berkelanjutan.

Kabid Litbang Bappeda Ngawi menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi yang terjalin. Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat merupakan kunci utama pembangunan desa yang adaptif dan inovatif. “Potensi desa-desa di Pangkur ini luar biasa. Kami melihat langsung bagaimana kreativitas warga dan pendampingan mahasiswa mampu menciptakan program nyata yang berdampak,” ujarnya.

Melalui kegiatan KKN-T Berdampak, diharapkan inovasi berbasis potensi lokal dapat terus berkembang, menjadi contoh bagi desa lainnya, serta memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Scroll to Top