Upaya mendorong transformasi pembangunan wilayah menuju sistem yang lebih tahan banting, efisien, dan ramah lingkungan kembali mengemuka dalam forum nasional. Pada Selasa, 2 Desember 2025, JFT bidang litbang turut serta dalam BMB (BRIN Menyapa BRIDA) melalui Zoom Meeting yang mengangkat tema “Praktik Baik Dalam Kebijakan Pengelolaan Pembangunan Wilayah Secara Sirkular.” Pertemuan ini menghadirkan paparan mendalam dari para peneliti BRIN terkait urgensi penerapan ekonomi sirkular sebagai paradigma baru pembangunan wilayah di Indonesia.

Dalam pemaparannya, tim riset BRIN menjelaskan bahwa ekonomi sirkular merupakan shift paradigma dari model take–make–waste menuju sistem close-loop yang memastikan material tidak menjadi sampah dan alam dapat terus beregenerasi. Konsep ini menekankan pemeliharaan nilai produk melalui perawatan, penggunaan ulang, refurbishment, hingga daur ulang. Berbagai rujukan dalam dokumen presentasi menegaskan bahwa model ini memungkinkan ekonomi tumbuh tanpa mengorbankan kualitas lingkungan—kebalikan dari pola pembangunan linear yang selama ini dominan.
Para peneliti BRIN memaparkan bahwa ketahanan wilayah (resilience) hanya dapat dicapai jika setiap sektor—mulai pangan, energi, air, hingga mobilitas—didorong menuju pola produksi dan konsumsi sirkular. Mereka juga menggarisbawahi bahwa chronic stresses seperti perubahan iklim dan tekanan sumber daya, serta acute shocks seperti bencana atau gangguan ekonomi, hanya dapat dihadapi dengan sistem regional yang adaptif dan terintegrasi. Ekonomi sirkular menjadi jembatan penting yang menghubungkan keduanya.

Dalam sesi pembahasan, BRIN menyoroti beberapa contoh konkret dari kota-kota di Indonesia, termasuk Semarang dan Surabaya, yang telah memulai langkah-langkah transisi sirkular melalui program pengelolaan sampah, pangan berkelanjutan, hingga pembentukan komunitas lingkungan. Meskipun keduanya belum memiliki regulasi holistik yang mengatur ekonomi sirkular lintas sektor, berbagai inisiatif teknis dan partisipatif dinilai berhasil menjadi pemantik perubahan di tingkat kota. Surabaya, misalnya, digarisbawahi sebagai kota dengan jaringan pengelolaan sampah yang kuat dan berkelanjutan.
Forum BMB juga menegaskan bahwa keberhasilan implementasi ekonomi sirkular sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat. BRIN menekankan bahwa perubahan tidak cukup hanya melalui kebijakan pemerintah—dibutuhkan local champions, kolaborasi lintas aktor, dan tata kelola multipusat (polycentric governance) agar transformasi dapat berjalan inklusif. Pada tingkat lingkungan, partisipasi warga dalam pengelolaan sampah, urban farming, hingga pengurangan limbah pangan terbukti menjadi fondasi kuat bagi sistem kota-wilayah yang lebih resilien.
Melalui pertemuan ini, JFT bidang litbang memperoleh pembaruan wawasan mengenai arah kebijakan pembangunan wilayah yang mengedepankan integrasi antara sosial, ekonomi, dan ekologi. Harapannya, daerah dapat mulai memetakan strategi transisi menuju Circular City-Region, dimana pembangunan tidak lagi menimbulkan beban lingkungan, tetapi justru menciptakan peluang ekonomi baru, sosial yang lebih kohesif, serta ketahanan wilayah yang jauh lebih kuat.