Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen kopi terbesar di dunia, namun masih menghadapi persoalan klasik yang menghambat daya saing global: kualitas yang tidak seragam, efisiensi pengolahan yang belum optimal, serta nilai tambah produk yang masih rendah. Di tengah persaingan internasional yang semakin ketat, penguasaan teknologi pengolahan kopi menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas, produktivitas, dan kekuatan ekonomi kopi daerah.

Menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan menyelenggarakan webinar bertema Inovasi Teknologi untuk Meningkatkan Daya Saing Kopi di Daerah. Kegiatan ini ditujukan untuk memperkuat pemahaman BRIDA/BAPPERIDA dan pemerintah daerah se-Indonesia mengenai teknologi pengolahan kopi modern serta strategi membangun ekosistem ekonomi kreatif berbasis kopi sebagai produk unggulan daerah.
Materi disampaikan oleh Dr. Nendyo Adhi Wibowo, M.Biotech, Peneliti Ahli Madya dan pakar teknologi pangan BRIN.

Webinar memaparkan perkembangan riset kopi terkini, mulai dari statistik produksi, tren konsumsi global, hingga inovasi mutakhir seperti teknologi pascapanen, pemrosesan biji, dan diversifikasi produk kopi. Berdasarkan dokumen yang ditampilkan, BRIN menyoroti pentingnya pengolahan kopi berbasis standar—mulai dari panen selektif, fermentasi terkendali, hingga pengujian mutu fisik dan citarasa—sebagai fondasi untuk mencapai kualitas premium.
Tidak hanya berhenti pada biji kopi, peserta juga mendapatkan wawasan tentang pemanfaatan limbah kopi seperti cascara, ampas kopi, dan kulit kopi sebagai bahan baku pangan, kosmetik, hingga energi alternatif. Riset BRIN menunjukkan bahwa cascara memiliki potensi besar sebagai bahan minuman inovatif dengan nilai gizi dan profil rasa yang kompleks, sekaligus memperkuat aspek keberlanjutan industri kopi.

Selain teknologi pengolahan, webinar juga menyoroti penggunaan berbagai metode brewing, standar penggilingan, serta teknik roasting untuk menghasilkan profil rasa yang optimal. Pemahaman utuh dari hulu ke hilir ini memberikan gambaran bahwa industri kopi tidak hanya bertumpu pada produksi, tetapi juga pada kreativitas inovasi dan ketepatan teknologi dalam setiap tahapan rantai pasok.
Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat peran BRIDA/BAPPERIDA dalam membangun ekosistem inovasi kopi daerah, sekaligus menghasilkan rekomendasi kebijakan yang lebih presisi—mulai dari pemberdayaan petani melalui pelatihan GMP, standardisasi kualitas sesuai SNI, penguatan infrastruktur UMKM, hingga promosi kopi lokal ke pasar nasional dan internasional.
Dengan penguatan kapasitas daerah dan dukungan teknologi yang tepat, Indonesia berpeluang besar untuk tidak hanya menjadi produsen kopi terbesar, tetapi juga menjadi pemain utama dengan produk berkualitas tinggi bernilai ekonomi besar.