NGAWI – Masalah sampah bukan lagi sekadar urusan kebersihan lingkungan, melainkan telah bergeser menjadi isu strategis nasional yang menyentuh aspek kesehatan hingga pertumbuhan ekonomi. Menyadari urgensi tersebut, Bappeda Kabupaten Ngawi turut serta dalam webinar nasional bertajuk pengelolaan sampah yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Kamis (09/04/2026).

Dalam forum tersebut, terungkap data mencengangkan: timbulan sampah di Indonesia menembus angka 56,63 juta ton per tahun, namun sayangnya lebih dari 60% di antaranya belum terkelola dengan baik. Praktik open dumping atau sekadar membuang sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) masih mendominasi, yang pada akhirnya memicu pencemaran lingkungan serta kerugian ekonomi yang tidak sedikit.
Revolusi dari Hulu: Mengejar Target 100% Terkelola 2029
Pemerintah telah mematok target ambisius untuk mengelola 100% sampah pada tahun 2029. Namun, tantangan besar membentang karena sistem saat ini masih terlalu fokus pada penanganan di hilir (TPA). Webinar ini menegaskan perlunya perubahan paradigma radikal dari sistem konvensional “kumpul-angkut-buang” menuju pengelolaan terintegrasi di hulu.

Kuncinya terletak pada pemilahan sampah langsung dari sumbernya, pengurangan timbulan, serta penguatan partisipasi masyarakat. Tanpa keterlibatan aktif warga dalam memilah sampah di rumah tangga, target nasional tersebut akan sulit tercapai secara berkelanjutan.
Belajar dari Banyumas: “Waste to Wealth” dan Ekonomi Sirkular
Salah satu sorotan utama dalam webinar ini adalah keberhasilan Kabupaten Banyumas yang sukses menerapkan konsep ekonomi sirkular melalui pendekatan Waste to Wealth. Di sana, sampah tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan aset ekonomi.
Melalui model ini, masyarakat diwajibkan memilah sampah dari rumah. Sampah kemudian diolah oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPS3R), sehingga hanya residu minimal yang dikirim ke TPA. Hasilnya? Sampah berubah menjadi produk bernilai tambah sekaligus menciptakan lapangan kerja baru bagi komunitas lokal.
Inovasi Teknologi dan Peran Desa
BRIN memperkenalkan berbagai inovasi teknologi yang fleksibel untuk diterapkan di daerah, mulai dari solusi biologis seperti pengomposan dan biogas, hingga teknologi termal seperti pirolisis untuk mengubah plastik menjadi bahan bakar.

Peran Desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan TPS3R berbasis komunitas menjadi ujung tombak. Implementasi teknologi sederhana namun tepat guna terbukti mampu mengubah limbah menjadi pupuk organik maupun energi alternatif, membuktikan bahwa pengelolaan sampah efektif bisa dimulai dari skala terkecil di tingkat komunitas.
Sinergi Riset dan Implementasi Daerah
Meski tingkat kepercayaan publik terhadap ilmuwan di Indonesia cukup tinggi, webinar ini mencatat masih adanya celah antara hasil riset dengan implementasi di lapangan. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan lembaga riset seperti BRIN perlu diperkuat untuk mempercepat hilirisasi inovasi.
Bagi Kabupaten Ngawi, partisipasi dalam forum ini menjadi langkah strategis untuk mereplikasi praktik baik dari daerah lain dan mengintegrasikan kebijakan berbasis riset ke dalam perencanaan daerah. Transformasi sistemik yang melibatkan kebijakan kuat, teknologi tepat, dan kesadaran masyarakat diharapkan mampu mengubah beban sampah menjadi peluang ekonomi hijau yang berkelanjutan.