Pemantauan tumbuh kembang balita memerlukan pencatatan dan pelaporan yang cepat serta akurat. Namun, di tingkat desa masih sering ditemukan kendala seperti pencatatan manual dan koordinasi yang kurang efektif. Untuk mengatasi hal tersebut, dikembangkan inovasi SIPANDU (Sistem Informasi Tumbuh Kembang Terpadu) yang memanfaatkan grup WhatsApp sebagai media komunikasi antara kader Posyandu, bidan desa, petugas Puskesmas, dan pemerintah desa. Inovasi ini bertujuan meningkatkan kualitas pemantauan balita sekaligus mendukung upaya pencegahan stunting.

SIPANDU memanfaatkan grup WhatsApp sebagai media utama untuk mempermudah komunikasi dan pelaporan hasil pemantauan tumbuh kembang balita. Setelah kegiatan Posyandu, kader mengirimkan data seperti berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, serta kondisi kesehatan balita menggunakan format yang telah disepakati. Selanjutnya, bidan desa dan petugas gizi Puskesmas melakukan verifikasi data untuk mengidentifikasi balita yang berisiko mengalami stunting atau gangguan pertumbuhan. Jika ditemukan masalah, segera dilakukan tindak lanjut berupa konseling gizi, kunjungan rumah, pemberian makanan tambahan, maupun rujukan ke fasilitas kesehatan. Seluruh data kemudian direkap secara digital sehingga memudahkan proses monitoring, evaluasi, dan penyusunan kebijakan kesehatan di tingkat desa. Dengan memanfaatkan WhatsApp, koordinasi antarpetugas menjadi lebih cepat, efisien, hemat biaya, dan tidak memerlukan aplikasi khusus, sehingga pelayanan kepada masyarakat dapat dilakukan secara lebih optimal.
SIPANDU merupakan inovasi pelayanan kesehatan berbasis digital yang mempermudah pencatatan, pelaporan, dan pemantauan tumbuh kembang balita. Dengan sistem yang sederhana namun efektif, inovasi ini meningkatkan koordinasi antarpetugas, mempercepat deteksi dini balita berisiko stunting, serta mendukung pelayanan kesehatan yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.