MUTIARA SPENTIK: Membentuk Karakter Religius melalui Budaya Mengaji di SMP Negeri 3 Kedunggalar

Pembentukan karakter peserta didik tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran akademik, tetapi juga melalui pembiasaan nilai-nilai moral dan spiritual. Namun, masih terdapat siswa yang belum lancar membaca Al-Qur’an, sementara kegiatan keagamaan di sekolah sebelumnya belum dilaksanakan secara rutin dan terstruktur. Kondisi tersebut mendorong SMP Negeri 3 Kedunggalar menghadirkan inovasi MUTIARA SPENTIK (Mengaji untuk Tingkatkan Akhlak dan Rohani SMPN 3 Kedunggalar) sebagai upaya membangun budaya religius sekaligus memperkuat karakter peserta didik melalui kegiatan mengaji yang dilaksanakan secara berkelanjutan.

MUTIARA SPENTIK merupakan program pembiasaan mengaji yang dilaksanakan setiap hari sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Selama 10–15 menit, peserta didik membaca Al-Qur’an dengan pendampingan guru Pendidikan Agama Islam, wali kelas, guru piket, serta sistem mentor sebaya, yaitu siswa yang telah lancar membaca Al-Qur’an membantu teman-temannya yang masih membutuhkan bimbingan. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga diajak memahami nilai-nilai akhlak yang terkandung di dalamnya. Program ini mengintegrasikan pembinaan karakter religius dengan proses pembelajaran di sekolah sehingga nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, kepedulian, dan saling menghargai dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pelaksanaan MUTIARA SPENTIK juga melibatkan orang tua melalui penyampaian informasi mengenai perkembangan kemampuan mengaji dan karakter peserta didik. Kolaborasi tersebut membantu menciptakan pembinaan yang berkelanjutan antara sekolah dan keluarga. Dengan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten, sekolah berhasil membangun lingkungan belajar yang lebih religius, kondusif, dan mendukung penguatan Profil Pelajar Pancasila.

MUTIARA SPENTIK menjadi inovasi SMP Negeri 3 Kedunggalar dalam membangun budaya religius melalui kegiatan mengaji yang terstruktur dan berkelanjutan. Melalui keterlibatan guru, siswa, dan orang tua, inovasi ini tidak hanya meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga memperkuat pembentukan karakter, akhlak mulia, serta kecerdasan spiritual peserta didik sebagai bekal menghadapi kehidupan di masa depan.

Scroll to Top