GERDU MAMI Hadir Lebih Dekat untuk Ibu dan Buah Hati

Ngawi – Pemerintah Kabupaten Ngawi terus berupaya menekan angka kematian ibu dan bayi melalui inovasi pelayanan kesehatan bertajuk GERDU MAMI (Gerakan Terpadu Melindungi dan Mengayomi Ibu Hamil, Bersalin, Nifas, dan Menyusui). Program ini digagas sebagai respons atas masih tingginya angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB), serta kasus stunting, baik di tingkat nasional maupun daerah. Di wilayah kerja Puskesmas Pangkur, tingginya kasus komplikasi kebidanan menjadi perhatian serius yang mendorong lahirnya inovasi ini.

Sebelumnya, pelayanan pemeriksaan kehamilan masih bersifat pasif karena ibu hamil harus datang langsung ke puskesmas, bahkan umumnya baru dilakukan setelah usia kehamilan di atas 12 minggu. Kondisi ini menyebabkan keterlambatan dalam mendeteksi risiko tinggi pada kehamilan, yang berpotensi memicu komplikasi hingga kematian ibu dan bayi. Menjawab permasalahan tersebut, GERDU MAMI hadir dengan pendekatan proaktif melalui layanan jemput bola yang lebih dekat dan mudah diakses oleh masyarakat.

Melalui program ini, tim kesehatan yang terdiri dari dokter, bidan, tenaga gizi, hingga lintas program lainnya turun langsung ke desa-desa untuk memberikan layanan pemeriksaan kehamilan terpadu atau ANC (Antenatal Care). Pemeriksaan dilakukan di tingkat desa, bahkan terintegrasi dengan posyandu melalui pendekatan Integrasi Layanan Primer (ILP). Dengan sistem ini, ibu hamil tidak perlu lagi datang jauh ke puskesmas karena layanan sudah hadir lebih dekat di lingkungan mereka.

Selain pemeriksaan kesehatan, GERDU MAMI juga menekankan pentingnya edukasi dan pendampingan kepada ibu hamil. Petugas kesehatan memberikan konseling terkait pentingnya pemeriksaan rutin, deteksi dini risiko kehamilan, serta kesiapan persalinan. Jika ditemukan kondisi berisiko tinggi, rujukan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat waktu, sehingga potensi komplikasi dapat diminimalisir sejak awal.

Dengan adanya GERDU MAMI, diharapkan angka kematian ibu dan bayi di wilayah Kabupaten Ngawi dapat terus menurun. Program ini juga menjadi contoh sinergi yang kuat antara tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader, dan masyarakat dalam menciptakan layanan kesehatan yang lebih responsif, inklusif, dan berkelanjutan bagi ibu dan anak.

Scroll to Top