Ngawi – UPT Puskesmas Paron menghadirkan inovasi dengan nama PARON BENTANG GASING (Paron Bergandengan Tangan Cegah Stunting) sebagai upaya percepatan penurunan stunting melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat dan kolaborasi lintas sektor. Program ini dirancang untuk menjawab permasalahan stunting yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat, baik di tingkat nasional maupun di wilayah kerja Puskesmas Paron. Stunting sendiri merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kondisi ini tidak hanya berdampak pada tinggi badan anak yang berada di bawah standar, tetapi juga memengaruhi perkembangan otak, kemampuan kognitif, serta meningkatkan risiko penyakit kronis di masa depan. Di wilayah Paron, berdasarkan hasil pemantauan status gizi, masih ditemukan balita dengan tinggi badan di bawah standar WHO, yang dipengaruhi oleh rendahnya pengetahuan gizi ibu, kurangnya pemberian ASI eksklusif, keterbatasan konsumsi protein hewani, serta belum meratanya akses sanitasi dan air bersih.

Sebelum adanya inovasi ini, edukasi gizi kepada masyarakat umumnya dilakukan secara umum di posyandu tanpa segmentasi sasaran, sehingga intervensi yang diberikan kurang spesifik. Data balita berisiko stunting juga belum dimanfaatkan secara optimal untuk menentukan prioritas penanganan, sementara kerja sama lintas sektor belum terstruktur dengan baik. Selain itu, pemantauan asupan gizi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita masih terbatas pada kegiatan rutin puskesmas. Namun, melalui PARON BENTANG GASING, pendekatan penanganan stunting mengalami perubahan signifikan. Program ini mengedepankan pendekatan terpadu dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari puskesmas, kader kesehatan, pemerintah desa, PKK, hingga sektor terkait lainnya. Intervensi difokuskan pada keluarga dengan ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang berisiko stunting, berdasarkan data hasil pengukuran di posyandu serta data keluarga sehat (Prokesga).
Berbagai kegiatan dilakukan secara terintegrasi, seperti penyuluhan gizi, pemberian tablet tambah darah (TTD), pemberian makanan tambahan (PMT) berbasis pangan lokal, hingga demo masak menu bergizi. Selain itu, dilakukan pula kunjungan rumah untuk memantau praktik pemberian ASI eksklusif, MPASI bergizi, serta kondisi sanitasi lingkungan. Program ini juga didukung dengan kegiatan kerja bakti sanitasi guna meningkatkan akses air bersih dan jamban sehat bagi masyarakat. Keunggulan dari inovasi ini terletak pada konsep “bergandengan tangan” yang menekankan kolaborasi dan gotong royong antar berbagai elemen masyarakat. Selain berbasis data dalam menentukan sasaran, program ini juga menghadirkan paket intervensi yang lengkap, mulai dari edukasi, perbaikan gizi, hingga aspek sanitasi dan lingkungan. Edukasi juga dikemas secara interaktif, seperti melalui demo masak dan kegiatan berbasis partisipasi masyarakat, sehingga lebih mudah dipahami dan diterapkan.
Dampak dari implementasi PARON BENTANG GASING mulai terlihat dari meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pemenuhan gizi sejak masa kehamilan hingga anak usia balita. Kunjungan dan partisipasi masyarakat ke posyandu juga meningkat, sehingga deteksi dini masalah gizi dapat dilakukan lebih cepat. Selain itu, keluarga menjadi lebih aktif dalam menjaga pola makan, kebersihan lingkungan, serta pemantauan tumbuh kembang anak. Melalui inovasi ini, Puskesmas Paron tidak hanya berfokus pada penanganan stunting, tetapi juga mendorong terbentuknya keluarga sehat dan generasi yang lebih berkualitas di masa depan. Dengan sinergi lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat, PARON BENTANG GASING diharapkan mampu menjadi model pencegahan stunting yang efektif, berkelanjutan, dan dapat direplikasi di wilayah lain.