Ngawi – Transformasi pembelajaran di dunia pendidikan terus berkembang seiring kebutuhan akan metode yang lebih relevan dan kontekstual. Menjawab tantangan tersebut, SMPN 1 Geneng Kabupaten Ngawi menghadirkan inovasi KEBULI (Kebun Edukasi Budidaya Belimbing) Lir Ilir, sebuah terobosan yang mengintegrasikan pembelajaran dengan praktik nyata berbasis potensi lokal.

Inovasi yang digagas oleh Banni Kurniawanto ini mulai diimplementasikan pada tahun 2024 sebagai solusi atas dominasi metode pembelajaran yang masih bersifat teoritis. Selama ini, siswa cenderung hanya menerima materi di dalam kelas tanpa pengalaman langsung, sehingga keterampilan hidup, jiwa kewirausahaan, dan pemahaman kontekstual belum berkembang secara optimal.
Melalui KEBULI Lir Ilir, pola tersebut diubah secara signifikan. Sekolah menghadirkan kebun belimbing sebagai media pembelajaran aktif yang melibatkan siswa secara langsung dalam seluruh proses, mulai dari penanaman, perawatan, hingga panen dan pengolahan hasil. Konsep ini menjadikan kebun sebagai “laboratorium hidup” yang tidak hanya mendukung pembelajaran, tetapi juga menumbuhkan pengalaman nyata.
Di atas lahan seluas kurang lebih 500 meter persegi, lebih dari 125 pohon belimbing varietas lokal ditanam dan dikelola bersama oleh siswa dan guru. Kegiatan ini tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dalam berbagai mata pelajaran seperti IPA, IPS, Prakarya, hingga Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Keunggulan utama inovasi ini terletak pada sistem pembelajaran yang menyeluruh, yakni dari proses tanam, olah, jual, hingga evaluasi. Setelah panen, hasil belimbing diolah menjadi berbagai produk seperti jus, selai, dan rujak siap saji yang kemudian dipasarkan melalui koperasi sekolah, bazar, hingga media sosial. Dalam proses ini, siswa belajar menghitung biaya produksi, menentukan harga jual, serta memahami strategi pemasaran sederhana.
Dampak dari inovasi ini pun sangat terasa. Selain meningkatkan keterampilan siswa, KEBULI Lir Ilir juga berhasil menumbuhkan karakter positif seperti gotong royong, tanggung jawab, kreativitas, dan kepedulian terhadap lingkungan. Lingkungan sekolah menjadi lebih hijau, asri, dan produktif, sekaligus menjadi ruang belajar yang menyenangkan dan inspiratif.
Tidak hanya berdampak di lingkungan sekolah, inovasi ini juga mendorong keterlibatan orang tua dan masyarakat. Mereka berperan dalam penyediaan bibit, pelatihan, hingga promosi produk, sehingga tercipta kolaborasi yang kuat antara sekolah dan lingkungan sekitar. Bahkan, hasil inovasi ini juga membuka peluang pemberdayaan ekonomi lokal melalui pengembangan produk berbasis belimbing.
Keberhasilan KEBULI Lir Ilir menjadikannya sebagai model inovasi pendidikan yang dapat direplikasi di berbagai daerah. Tercatat, inovasi ini telah diadopsi oleh beberapa wilayah lain seperti Sragen, Sukabumi, dan Kota Madiun, sebagai bentuk pengembangan pembelajaran berbasis potensi lokal.
Dengan pendekatan yang sederhana namun berdampak luas, KEBULI Lir Ilir membuktikan bahwa pembelajaran tidak harus selalu berada di dalam kelas. Justru melalui praktik nyata yang terintegrasi dengan lingkungan sekitar, sekolah mampu mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan, karakter, dan daya saing di masa depan.