Ngawi – Upaya meningkatkan keselamatan pasien anak kini terus diperkuat melalui inovasi pelayanan kefarmasian. Salah satunya adalah program “OPOR AWET” (Optimalisasi Pelayanan Kefarmasian pada Anak melalui Buku Saku Batas Waktu Penggunaan Obat/Beyond Use Date) yang menghadirkan edukasi praktis bagi orang tua terkait penggunaan obat yang aman dan tepat. Inovasi ini lahir dari keprihatinan tenaga farmasi terhadap masih rendahnya pemahaman masyarakat, khususnya orang tua pasien, mengenai batas waktu penggunaan obat setelah kemasan dibuka atau dikenal dengan istilah Beyond Use Date (BUD). Padahal, kesalahan dalam penggunaan obat yang sudah melewati BUD berpotensi menurunkan efektivitas bahkan membahayakan kesehatan anak.

Melalui “OPOR AWET”, edukasi diberikan dalam bentuk buku saku yang berisi informasi sederhana namun komprehensif mengenai jenis-jenis sediaan obat, batas waktu penggunaannya setelah dibuka, hingga cara penyimpanan yang benar. Menariknya, buku saku ini juga dilengkapi dengan sistem digital berbasis barcode yang dapat dipindai menggunakan ponsel, sehingga memudahkan akses kapan saja dan di mana saja. Selain itu, dalam buku saku tersebut tersedia lembar khusus yang dapat diisi oleh orang tua untuk mencatat jenis obat yang digunakan anak serta batas waktu penggunaannya. Dengan cara ini, diharapkan orang tua dapat lebih disiplin dan teliti dalam memberikan obat kepada anak.
Program ini diterapkan baik pada pasien rawat jalan maupun rawat inap dengan melibatkan kolaborasi antara apoteker dan perawat di ruang perawatan. Edukasi dilakukan secara langsung kepada orang tua pasien sebagai bagian dari pelayanan kesehatan yang menyeluruh. Hasil awal menunjukkan dampak positif. Tingkat pemahaman orang tua terhadap penggunaan obat meningkat signifikan, yang terlihat dari hasil evaluasi berupa nilai setelah edukasi (post-test) yang lebih tinggi dibandingkan sebelum edukasi (pre-test). Selain meningkatkan keselamatan pasien, inovasi ini juga membantu tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan yang lebih efektif dan komunikatif. Meski demikian, pelaksanaan program ini juga menghadapi sejumlah tantangan, seperti kebutuhan pendanaan untuk pencetakan buku saku serta adaptasi penggunaan teknologi di kalangan masyarakat dan tenaga kesehatan. Namun, dengan pendekatan bertahap dan kolaboratif, hambatan tersebut dinilai dapat diatasi.
Kehadiran “OPOR AWET” menjadi bukti bahwa inovasi sederhana berbasis edukasi dapat memberikan dampak besar dalam dunia kesehatan. Dengan meningkatkan pengetahuan orang tua, risiko kesalahan penggunaan obat pada anak dapat ditekan, sekaligus mendorong terciptanya pelayanan kesehatan yang lebih aman, efektif, dan berorientasi pada kebutuhan pasien. Ke depan, inovasi ini diharapkan dapat terus dikembangkan dan direplikasi di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.