Menuju Ngawi Bebas Tuli: NABATI Jadi Gerakan Nyata

Ngawi – Upaya meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak terus dilakukan RSUD dr. Soeroto Ngawi melalui inovasi “NABATI” (Ngawi Bebas Tuli). Program ini difokuskan pada deteksi dini gangguan pendengaran pada bayi sejak lahir, sebagai langkah preventif untuk mencegah keterlambatan bicara dan gangguan perkembangan di masa depan.

Inovasi ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka gangguan pendengaran secara global. Data Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization menyebutkan bahwa ratusan juta orang di dunia mengalami gangguan pendengaran, dengan sebagian besar kasus terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena kemampuan mendengar berperan penting dalam proses belajar, komunikasi, serta perkembangan anak secara keseluruhan. Di tingkat lokal, RSUD dr. Soeroto Ngawi masih menemukan banyak pasien anak yang datang dalam kondisi terlambat, yaitu setelah melewati masa perkembangan bahasa. Hal ini menyebabkan hasil terapi menjadi kurang optimal. Padahal, periode kritis perkembangan pendengaran dan kemampuan berbicara terjadi sejak usia 0–6 bulan hingga maksimal 2 tahun.

Melalui inovasi NABATI, rumah sakit mendorong pelaksanaan skrining pendengaran sedini mungkin, bahkan sejak bayi baru lahir sebelum pulang dari rumah sakit. Pemeriksaan dilakukan menggunakan teknologi Otoacoustic Emission (OAE), yaitu alat skrining modern yang aman, cepat, dan tidak menimbulkan rasa nyeri pada bayi. Proses pemeriksaan hanya memerlukan waktu sekitar 5–10 menit, dengan hasil berupa kategori “pass” (normal) atau “refer” (perlu pemeriksaan lanjutan). Skrining ini menjadi sangat penting karena gangguan pendengaran pada bayi sering kali tidak terdeteksi secara kasat mata. Tanpa pemeriksaan dini, kondisi tersebut berisiko menyebabkan keterlambatan bicara, gangguan komunikasi, hingga penurunan kualitas hidup anak di masa depan. Selain itu, inovasi NABATI juga memperhatikan berbagai faktor risiko yang dapat memicu gangguan pendengaran pada bayi, seperti riwayat keluarga, infeksi selama kehamilan, berat badan lahir rendah, hingga perawatan intensif di NICU. Dengan mengetahui faktor risiko tersebut, tenaga kesehatan dapat melakukan pemantauan lebih intensif serta intervensi yang lebih cepat.

Program ini tidak hanya berfokus pada deteksi, tetapi juga penanganan berkelanjutan. Jika ditemukan gangguan pendengaran, bayi akan segera mendapatkan intervensi seperti penggunaan alat bantu dengar, terapi wicara, hingga pendampingan oleh tim multidisiplin yang terdiri dari dokter spesialis THT, dokter anak, terapis wicara, serta dukungan keluarga. Melalui NABATI, RSUD dr. Soeroto Ngawi menegaskan pentingnya deteksi dini sebagai kunci utama dalam mencegah dampak jangka panjang gangguan pendengaran. Dengan penanganan yang cepat dan tepat, anak memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh dengan kemampuan komunikasi yang optimal. Inovasi ini diharapkan mampu menciptakan generasi anak yang sehat, cerdas, dan produktif, sekaligus menjadi langkah nyata menuju masyarakat Ngawi yang bebas dari gangguan pendengaran sejak dini.

Scroll to Top