Ngawi – Di tengah derasnya arus digitalisasi yang membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, perhatian terhadap budaya lokal semakin terpinggirkan. Salah satunya adalah Aksara Jawa yang merupakan warisan luhur bangsa namun mulai jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Menjawab tantangan tersebut, hadir inovasi LIDAH RAJA (LIterasi inDAH aksaRA JAwa) di Kabupaten Ngawi sebagai upaya pelestarian budaya sekaligus penguatan literasi berbasis kearifan lokal di lingkungan sekolah.

Inovasi ini lahir dari kesadaran bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dikenalkan, tetapi harus dibiasakan melalui kegiatan nyata yang menyenangkan dan berkelanjutan di sekolah. Oleh karena itu, LIDAH RAJA dirancang sebagai program literasi yang mengintegrasikan pembelajaran Aksara Jawa dalam berbagai aktivitas siswa sehari-hari.
Program ini bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan siswa terhadap budaya Jawa, meningkatkan kemampuan membaca dan menulis Aksara Jawa, serta memperkuat integrasi pembelajaran berbasis budaya lokal dalam kegiatan sekolah. Selain itu, program ini juga menjadi sarana untuk melestarikan warisan leluhur Jawa yang adiluhung sekaligus menumbuhkan rasa handarbeni atau memiliki terhadap budaya sendiri.
Pelaksanaan LIDAH RAJA diwujudkan melalui berbagai kegiatan kreatif dan partisipatif. Salah satunya adalah pojok Aksara Jawa, yaitu ruang literasi yang berisi buku, poster, dan media pembelajaran Aksara Jawa. Selain itu terdapat kegiatan Hari Aksara Jawa di mana siswa secara rutin menulis kutipan, pantun, atau kalimat motivasi menggunakan Aksara Jawa yang kemudian dipajang di papan literasi sekolah.
Tidak hanya itu siswa juga diajak untuk membuat karya digital Aksara Jawa berupa video pendek, puisi, atau cerita berbahasa Jawa yang dikombinasikan dengan tulisan Aksara Jawa. Untuk memperkuat kemampuan, sekolah juga menyelenggarakan pelatihan Aksara Jawa serta lomba literasi Aksara yang meliputi menulis, membaca, hingga seni kaligrafi Aksara Jawa.
Jika dibandingkan dengan kondisi sebelumnya, pembelajaran Aksara Jawa cenderung bersifat teoritis dan kurang diminati karena minimnya praktik langsung. Namun melalui LIDAH RAJA, pembelajaran berubah menjadi lebih hidup, kreatif, dan dekat dengan keseharian siswa sehingga minat belajar meningkat secara signifikan.
Lalu, apa yang membuat program ini berbeda dari pembelajaran bahasa daerah pada umumnya? perbedaannya terletak pada pengintegrasian literasi budaya ke dalam kegiatan kreatif, digital, dan partisipatif yang melibatkan siswa secara aktif dalam proses berkarya, bukan hanya memahami teori. Dengan demikian, Aksara Jawa tidak hanya dipelajari, tetapi juga dihidupkan kembali melalui karya nyata.
Melalui implementasi program ini, terjadi peningkatan nyata dalam kemampuan siswa membaca dan menulis Aksara Jawa, bertambahnya karya berbasis budaya lokal, serta semakin kuatnya rasa bangga dan kepemilikan terhadap budaya Jawa di kalangan peserta didik. Pada akhirnya, sekolah tidak hanya menjadi tempat pembelajaran, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya kecintaan terhadap budaya lokal yang terus dijaga, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya melalui praktik literasi yang berkelanjutan.