Inovasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat terus berkembang di Kabupaten Ngawi. Salah satunya hadir lewat Bank Sampah “Peduli Alam Lestari” di Desa Sambirejo, Kecamatan Mantingan. Program ini lahir dari keprihatinan warga terhadap sampah rumah tangga yang menumpuk dan mencemari lingkungan. Bank sampah ini bukan sekadar tempat menampung sampah, melainkan pusat edukasi, pemberdayaan ekonomi, serta gerakan bersama untuk menciptakan desa yang sehat dan lestari.

Cara Kerja Bank Sampah
Tim pengelola terbentuk dari pemerintah desa, PKK, karang taruna, dan tokoh masyarakat. Mereka memanfaatkan lahan desa atau bangunan kosong sebagai lokasi kegiatan. Warga menyetor sampah anorganik yang kemudian ditimbang dan dicatat sebagai tabungan sesuai harga pasar. Sampah organik diolah menjadi kompos dengan metode takakura atau tong aerob untuk pertanian lokal. Sementara itu, plastik dan sampah anorganik lain dipilah lalu dijual ke pengepul atau diolah menjadi produk kerajinan.
Bank Sampah Peduli Alam Lestari juga menghadirkan inovasi untuk mengolah sampah residu. Warga membuat eco-brick dengan memadatkan sampah ke dalam botol plastik. Mereka juga mengolah plastik dan pasir menjadi paving block untuk rabat jalan desa. Bahkan, ada kerja sama dengan industri semen agar residu dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Produk hasil daur ulang seperti kompos, tas, pot tanaman, dan paving block dipasarkan melalui BUMDes dan media sosial sehingga memberi nilai tambah ekonomi.
Program ini membawa banyak manfaat. Volume sampah liar berkurang hingga 60 persen sehingga desa lebih bersih. Warga mendapat tambahan penghasilan dari tabungan sampah dan UMKM daur ulang mulai tumbuh. Petani terbantu dengan pupuk kompos murah, bahkan gratis. Anak-anak juga belajar memilah sampah sejak dini. Bank Sampah Peduli Alam Lestari kini menjadi gerakan kolektif warga Sambirejo untuk mewujudkan desa yang bersih, mandiri, dan berdaya ekonomi.