Ngawi — Dunia pendidikan di Kabupaten Ngawi kembali menunjukkan taringnya. Pada ajang Apresiasi GTK jenjang SMP tingkat Provinsi Jawa Timur, perwakilan Ngawi sukses mengamankan peringkat 2 besar dengan membawa inovasi pembelajaran yang tak biasa: PANDESIGANA atau Pembelajaran Mendalam melalui Literasi Tanggap Bencana.

Inovasi dari SMPN 2 Karanganyar ini bukan sekadar proyek tempelan, melainkan gagasan yang lahir dari keresahan nyata: bagaimana membuat siswa bukan hanya cerdas, tetapi juga siap menghadapi kondisi darurat. PANDESIGANA menjawabnya dengan pendekatan pembelajaran yang memadukan literasi, simulasi bencana, analisis kasus, hingga proyek kolaboratif yang membuat siswa benar-benar melek risiko.
Konsep ini berhasil menggugah perhatian juri karena tampil sebagai paket lengkap—mulai dari landasan ilmiah, metode eksploratif, hingga praktik lapangan yang melibatkan siswa secara aktif. Tidak heran jika inovasi ini menyedot decak kagum dan langsung membawa Kabupaten Ngawi melesat ke papan atas.
Prestasi ini menjadi bukti bahwa sekolah di daerah tidak kalah progresif dibanding yang berada di kota-kota besar. Justru lewat pendekatan humanis dan kontekstual, SMPN 2 Karanganyar berhasil menciptakan model pembelajaran yang relevan, adaptif, dan berdampak nyata bagi peserta didik.

Pemerintah daerah pun menyampaikan apresiasi tinggi atas capaian ini, karena selain mengharumkan nama Ngawi, keberhasilan PANDESIGANA juga menjadi inspirasi bagi sekolah lain untuk berani berinovasi. Ke depan, inovasi ini diharapkan dapat direplikasi lebih luas, sehingga literasi tanggap bencana bukan hanya wacana, tetapi budaya belajar yang hidup di sekolah-sekolah.
Dengan prestasi ini, Ngawi kembali menegaskan diri sebagai salah satu daerah yang serius membangun kualitas pendidikan—eksentrik dalam gagasan, solid dalam eksekusi, dan membanggakan dalam hasil.