SAGIRA : Sahabat Gizi Keluarga sebagai Upaya Percepatan Penurunan Stunting Berbasis Keluarga di Kecamatan Jogorogo

Stunting masih menjadi salah satu tantangan dalam pembangunan kesehatan masyarakat, termasuk di Kecamatan Jogorogo, Kabupaten Ngawi. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Dampaknya tidak hanya terlihat pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan otak, kemampuan belajar, serta produktivitas anak di masa depan. Berdasarkan data tahun 2025, prevalensi stunting di Kecamatan Jogorogo berada pada angka 7 persen, lebih rendah dibandingkan angka prevalensi stunting Kabupaten Ngawi yang mencapai 9,63 persen. Meskipun angka tersebut sudah berada di bawah rata-rata kabupaten, upaya pencegahan dan penanganan stunting tetap perlu dilakukan secara berkelanjutan. Setiap kasus stunting menunjukkan masih adanya tantangan dalam pemenuhan kebutuhan gizi, kesehatan, serta pola pengasuhan anak di tingkat keluarga. Sebagai bentuk upaya untuk memperkuat pencegahan stunting, Balai Penyuluh KB Kecamatan Jogorogo menghadirkan inovasi SAGIRA (Sahabat Gizi Keluarga). Inovasi ini merupakan program pendampingan keluarga yang berfokus pada peningkatan pemenuhan gizi, edukasi pola asuh, serta pemberdayaan keluarga agar mampu menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Program SAGIRA hadir dengan pendekatan berbasis keluarga melalui kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, kader, serta masyarakat. Program ini tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan pangan, tetapi juga mendorong perubahan perilaku keluarga agar mampu memenuhi kebutuhan gizi anak secara mandiri dan berkelanjutan. Pelaksanaan SAGIRA dilakukan melalui beberapa strategi utama. 

Pertama, pemberian bantuan pangan bergizi kepada keluarga sasaran berisiko stunting. Bantuan berupa makanan bergizi seperti protein hewani, sayuran, buah, susu, maupun makanan tambahan diberikan secara rutin untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga yang membutuhkan. Kedua, edukasi gizi dan pola pengasuhan menjadi bagian penting dalam program ini. Melalui kegiatan penyuluhan, kelas gizi, serta pendampingan keluarga, masyarakat diberikan pemahaman mengenai pentingnya gizi seimbang, kebersihan lingkungan, pola makan anak, serta cara pengasuhan yang mendukung tumbuh kembang anak. Pendampingan juga dilakukan melalui kunjungan rumah agar keluarga mendapatkan arahan sesuai dengan kondisi masing-masing. Ketiga, SAGIRA mengembangkan konsep Dapur Keluarga Mandiri melalui kegiatan demo memasak makanan sehat berbahan pangan lokal. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan keterampilan keluarga dalam mengolah makanan bergizi dengan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Dengan demikian, keluarga tidak hanya bergantung pada bantuan makanan, tetapi juga mampu menyediakan menu sehat secara mandiri.Keempat, inovasi ini menghadirkan Gerakan Ayah Peduli Gizi sebagai upaya meningkatkan keterlibatan ayah dalam pemenuhan gizi dan pengasuhan anak. Peran keluarga, termasuk ayah, menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan dan perkembangan anak. Melalui diskusi dan kegiatan komunitas, ayah didorong untuk lebih aktif dalam mendukung pola makan sehat serta pengasuhan anak. Dalam pelaksanaannya, SAGIRA diawali dengan proses pendataan keluarga sasaran berisiko stunting dan koordinasi bersama berbagai pihak terkait. Setelah itu dilakukan pemberian bantuan pangan, edukasi keluarga, pendampingan, hingga monitoring perkembangan anak secara berkala. Pengukuran berat badan dan tinggi badan dilakukan setiap bulan untuk melihat perkembangan kondisi sasaran, sementara pencatatan dan pelaporan dilakukan oleh Tim Pendamping Keluarga (TPK).

Hasil dari pelaksanaan SAGIRA menunjukkan adanya pendekatan yang lebih terstruktur dalam pencegahan stunting dari hulu hingga hilir. Pendampingan dilakukan sejak calon pengantin melalui edukasi kesiapan gizi pranikah, kemudian berlanjut pada ibu hamil dan menyusui melalui pendampingan kesehatan serta pemenuhan gizi, hingga pemantauan tumbuh kembang balita yang berisiko mengalami stunting. Melalui inovasi ini, keluarga memperoleh akses informasi dan pendampingan yang lebih baik mengenai pentingnya gizi dan pola asuh anak. Selain itu, SAGIRA juga memperkuat kerja sama lintas sektor dalam mendukung percepatan penurunan stunting di Kecamatan Jogorogo.

Inovasi SAGIRA (Sahabat Gizi Keluarga) merupakan salah satu langkah strategis dalam upaya percepatan penurunan stunting melalui pendekatan keluarga. Program ini tidak hanya memberikan bantuan pangan bergizi, tetapi juga membangun kesadaran dan kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi serta menerapkan pola pengasuhan yang baik. Dengan menggabungkan edukasi gizi, pemberdayaan keluarga, keterlibatan ayah, serta pendampingan berkelanjutan, SAGIRA diharapkan mampu menciptakan keluarga yang lebih mandiri dan sehat. Kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan program ini dalam mewujudkan generasi Kecamatan Jogorogo yang sehat, cerdas, dan berkualitas.

Scroll to Top