Kabupaten Ngawi memiliki potensi besar dalam sektor pertanian dengan berbagai komoditas unggulan, seperti pisang dan tebu. Namun, sebagian besar hasil pertanian masih dijual dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah ekonomi yang diperoleh masyarakat belum maksimal. Kondisi tersebut menyebabkan produk lokal belum mampu memberikan dampak optimal terhadap peningkatan kesejahteraan pelaku usaha dan masyarakat. Selain itu, pelaku industri kecil dan UMKM di Kabupaten Ngawi masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan teknologi produksi, rendahnya kapasitas produksi, kurangnya inovasi produk, hingga belum optimalnya strategi pemasaran. Produk olahan berbasis komoditas lokal masih perlu dikembangkan agar mampu memiliki daya saing lebih tinggi. Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Ngawi melalui Dinas Perdagangan, Perindustrian dan Tenaga Kerja (DPPTK) menghadirkan inovasi GAGI (Gandeng Gendong Industri) sebagai upaya mendorong pengembangan industri berbasis potensi lokal melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha.

GAGI (Gandeng Gendong Industri) merupakan inovasi yang bertujuan meningkatkan nilai tambah produk unggulan daerah melalui proses hilirisasi, khususnya pengolahan komoditas pisang menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Inovasi ini mengubah pola pengelolaan produk lokal yang sebelumnya masih sederhana menjadi industri yang lebih modern dengan dukungan teknologi dan pendampingan. Sebelum adanya inovasi GAGI, pengolahan pisang di Kabupaten Ngawi masih didominasi penjualan dalam bentuk segar atau olahan sederhana. Proses produksi masih dilakukan secara manual sehingga kapasitas produksi terbatas dan kualitas produk belum konsisten. Selain itu, pelaku usaha masih membutuhkan pendampingan dalam pengembangan produk, manajemen usaha, dan pemasaran.
Melalui GAGI, dilakukan berbagai pembaruan seperti pelatihan diversifikasi produk olahan tepung pisang, peningkatan kapasitas produksi, serta pengenalan teknologi tepat guna. Pelaku usaha diberikan dukungan berupa penggunaan mesin penepung, oven, mixer, timbangan digital, dan freezer agar proses produksi menjadi lebih cepat, higienis, dan menghasilkan produk yang lebih berkualitas. Program ini juga melibatkan kerja sama antara DPPTK Kabupaten Ngawi dengan perguruan tinggi, salah satunya Universitas Brawijaya, dalam memberikan pendampingan teknologi dan penguatan kapasitas pelaku usaha. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam menciptakan industri lokal yang inovatif dan berkelanjutan.
Keunggulan utama GAGI terletak pada konsep “gandeng gendong”, yaitu menggandeng berbagai pihak untuk bersama-sama mengembangkan industri lokal. Pemerintah berperan dalam fasilitasi dan pendampingan, akademisi memberikan dukungan ilmu serta teknologi, sedangkan pelaku usaha menjadi penggerak utama dalam produksi dan pengembangan produk. Melalui inovasi ini, komoditas pisang tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dikembangkan menjadi produk turunan seperti tepung pisang, mie berbahan dasar tepung pisang, dan berbagai produk pangan lainnya. Pengembangan produk tersebut mampu meningkatkan nilai jual sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.
Pelaksanaan GAGI dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu identifikasi potensi dan permasalahan, penyusunan konsep inovasi, pelaksanaan pelatihan dan pendampingan, pengembangan produk, perluasan pasar, serta evaluasi berkelanjutan. Dengan tahapan tersebut, inovasi ini diharapkan mampu terus berkembang sesuai kebutuhan industri dan pasar.
GAGI (Gandeng Gendong Industri) menjadi salah satu upaya Kabupaten Ngawi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal melalui hilirisasi produk pertanian. Dengan menggabungkan teknologi, pemberdayaan pelaku usaha, dan kolaborasi berbagai pihak, inovasi ini mampu meningkatkan kualitas produk serta memperkuat daya saing industri daerah. Melalui pengembangan produk olahan pisang dan dukungan pendampingan berkelanjutan, GAGI tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi pelaku usaha, tetapi juga membuka peluang usaha baru dan memperluas pasar hingga tingkat internasional. Keberhasilan produk dari Jogorogo dan Kwadungan yang mampu menembus pasar Eropa menjadi bukti bahwa produk lokal Ngawi memiliki potensi untuk bersaing di tingkat global.