Siasat Cerdas Ketahanan Pangan: Mengadu Inovasi Teknologi dan Kearifan Lokal Lawan Iklim Ekstrem

JAKARTA – Bappeda Ngawi melalui bidang litbang mengikuti webinar bertajuk “Disseminasi Inovasi Pangan Tahan Iklim Ekstrem” yang digelar pada Senin (30/03/2026), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) membedah strategi komprehensif untuk menjaga isi piring masyarakat tetap aman meski bencana mengintai. Di tengah ancaman perubahan iklim global yang kian tak menentu, Indonesia memperkuat benteng pertahanan pangannya melalui sinergi inovasi teknologi dan optimalisasi sumber daya lokal.

Salah satu terobosan yang mencuri perhatian adalah metode Tanam Benih Langsung (Tabela) atau direct seeding. Teknologi ini menjadi jawaban bagi tantangan kelangkaan tenaga kerja dan kebutuhan efisiensi air di lahan sawah yang luas. Menariknya, metode ini tidak hanya mampu menghasilkan gabah yang setara dengan metode tanam pindah konvensional, tetapi juga mempercepat masa panen hingga 10–14 hari. Penggunaan benih berselimut (coated seed) menjadi kunci agar benih tetap tertancap sempurna meski di lahan tergenang, membuktikan bahwa sentuhan teknologi mampu memitigasi risiko kegagalan panen di wilayah rawan bencana.

Namun, ketahanan pangan tidak hanya soal padi. Pemerintah kini menggencarkan Diversifikasi Pangan dengan mengangkat kembali potensi lokal seperti sagu, jagung, sorgum, hingga umbi-umbian yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Pangan lokal ini dinilai lebih “tangguh” karena secara alami telah beradaptasi dengan kondisi iklim spesifik di Indonesia, rendah input kimia, serta memiliki nilai gizi yang tinggi. Langkah ini bukan sekadar upaya kembali ke tradisi, melainkan strategi modern untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis komoditas utama.

Dari sisi manajemen risiko, Badan Pangan Nasional memaparkan pentingnya Aksi Antisipatif (Anticipatory Action) melalui pemantauan stok Cadangan Beras Pemerintah Daerah (CPPD) yang presisi. Berdasarkan data per Maret 2026, peta sebaran stok pangan nasional menunjukkan kolaborasi yang semakin solid antarprovinsi. Melalui sistem geoinformatika dan pemutakhiran rutin peta kerawanan pangan (FSVA), pemerintah dapat melakukan intervensi yang tepat sasaran sebelum krisis pangan benar-benar terjadi, sebuah langkah maju yang didorong oleh standar global dari FAO.

Sebagai penutup, webinar ini menegaskan sebuah Peta Jalan Eksekusi yang ambisius. Terdapat 10 rekomendasi prioritas kebijakan yang mencakup integrasi dampak iklim ke dalam perencanaan daerah, penguatan kuota cadangan pangan, hingga inklusi kelompok perempuan tani. Transformasi ini menuntut kolaborasi lintas sektor antara BRIDA, BAPPEDA, dan tim percepatan pembangunan di daerah. Dengan sinergi antara riset mendalam, teknologi tepat guna, dan kebijakan yang berpihak pada lokalitas, Indonesia optimistis mampu mewujudkan kedaulatan pangan yang inklusif dan berkelanjutan di masa depan.

Scroll to Top