Gangguan pertumbuhan pada balita perlu diketahui sejak dini agar tidak berkembang menjadi masalah gizi yang lebih serius. Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah kondisi 2T, yaitu berat badan balita tidak mengalami kenaikan selama dua kali berturut-turut. Melihat pentingnya penanganan sejak awal, Puskesmas Pangkur menghadirkan RANTING BERDURI (Rujukan Balita 2T dan Stunting Bersama Kader untuk Intervensi Dini). Inovasi ini memperkuat peran kader dan tenaga kesehatan dalam menemukan serta menangani balita berisiko stunting lebih cepat.

Melalui RANTING BERDURI, kader Posyandu tidak hanya melakukan penimbangan dan pencatatan pertumbuhan balita. Kader juga berperan mengenali kondisi 2T dan membantu proses rujukan ke Puskesmas agar balita segera mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Balita yang dirujuk akan diperiksa untuk mengetahui faktor yang memengaruhi pertumbuhannya. Penanganan kemudian disesuaikan dengan kebutuhan, mulai dari konseling gizi, edukasi pola asuh, pelayanan kesehatan, hingga pendampingan keluarga dan kunjungan rumah.
Penerapan inovasi ini turut menunjukkan perkembangan positif. Kasus balita 2T yang pada 2023 berada di angka 8,25 persen menurun menjadi 5,7 persen pada 2025. Kolaborasi kader, keluarga, dan tenaga kesehatan menjadi bagian penting dalam mempercepat intervensi serta mencegah gangguan pertumbuhan sejak dini.
RANTING BERDURI menjadi inovasi Puskesmas Pangkur dalam memperkuat deteksi dini dan penanganan balita berisiko stunting. Melalui rujukan cepat dan pendampingan yang berkelanjutan, balita dengan gangguan pertumbuhan dapat memperoleh penanganan lebih awal untuk mendukung tumbuh kembang yang lebih optimal.