Ngawi – Dalam upaya menekan angka penderita hipertensi serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM), Puskesmas Kendal meluncurkan inovasi dengan nama RAPETIN (Gerakan Penyuluhan Rutin Penyakit Tidak Menular). Program ini hadir sebagai respons atas meningkatnya kasus hipertensi, baik secara nasional maupun di tingkat lokal. Berdasarkan data terbaru, prevalensi hipertensi di Indonesia terus mengalami kenaikan, begitu pula di Jawa Timur. Kondisi ini juga tercermin di wilayah kerja Puskesmas Kendal, di mana hipertensi menjadi salah satu penyakit terbanyak dan terus menunjukkan tren peningkatan setiap tahunnya.

Melalui RAPETIN, pendekatan pelayanan kesehatan tidak lagi hanya berfokus pada pengobatan, tetapi lebih menekankan pada upaya promotif dan preventif melalui penyuluhan kesehatan yang dilakukan secara rutin dan terstruktur. Program ini dirancang untuk menjawab permasalahan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini, pola hidup sehat, serta pentingnya pengendalian faktor risiko hipertensi. Pelaksanaan RAPETIN dilakukan secara langsung di tengah masyarakat dengan sistem jemput bola. Tim kesehatan dari Puskesmas bersama kader, bidan desa, serta tokoh masyarakat secara bergilir mendatangi desa dan dusun untuk memberikan penyuluhan kesehatan. Kegiatan ini dilaksanakan di berbagai lokasi strategis seperti balai desa, posyandu, hingga tempat ibadah, sehingga mudah dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
Materi yang disampaikan dalam RAPETIN tidak hanya berupa edukasi umum, tetapi juga berfokus pada perubahan perilaku melalui penerapan pola hidup sehat seperti konsep CERDIK dan PATUH. Selain itu, masyarakat juga diberikan kesempatan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan sederhana, seperti pengukuran tekanan darah, lingkar perut, serta indeks massa tubuh sebagai bagian dari deteksi dini hipertensi. Keunggulan utama dari inovasi ini terletak pada pendekatannya yang rutin, terjadwal, dan berbasis komunitas. Berbeda dengan penyuluhan konvensional yang bersifat insidental, RAPETIN hadir sebagai gerakan berkelanjutan yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Program ini juga memanfaatkan data dari sistem informasi kesehatan seperti SIMPUS dan Posbindu untuk menentukan sasaran prioritas, sehingga intervensi yang dilakukan menjadi lebih tepat dan efektif.
Sejak diimplementasikan, RAPETIN mulai menunjukkan dampak positif, terutama dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai hipertensi, mendorong kebiasaan pemeriksaan kesehatan secara rutin, serta memperkuat keterlibatan masyarakat dalam menjaga kesehatan secara mandiri. Selain itu, program ini juga membantu tenaga kesehatan dalam melakukan pemetaan risiko dan tindak lanjut terhadap warga yang berpotensi mengalami hipertensi. Lebih dari sekadar kegiatan penyuluhan, RAPETIN merupakan bentuk inovasi pelayanan kesehatan yang menekankan pentingnya perubahan perilaku dan pemberdayaan masyarakat sebagai kunci utama dalam pengendalian PTM. Ke depan, inovasi RAPETIN diharapkan dapat terus dikembangkan dan direplikasi di wilayah lain sebagai strategi efektif dalam menurunkan angka penderita hipertensi serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.