Ngawi – Upaya pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) terus diperkuat melalui inovasi berbasis masyarakat di wilayah Puskesmas Widodaren, Kecamatan Gerih, Kabupaten Ngawi. Program bertajuk GEMAS CANTIK (Gerakan Masyarakat Mencari Jentik) hadir sebagai solusi dalam memutus rantai penularan DBD yang hingga kini masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia. Mengingat belum adanya obat khusus maupun vaksin yang digunakan secara luas, pengendalian vektor nyamuk Aedes aegypti menjadi langkah utama dalam pencegahan penyakit ini.

Di tingkat lokal, berbagai permasalahan masih ditemukan, seperti rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan serta masih ditemukannya jentik nyamuk di rumah warga. Selain itu, kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) sebelumnya belum berjalan secara terstruktur dan masih dianggap sebagai tanggung jawab petugas kesehatan semata. Kondisi ini menyebabkan angka kejadian DBD di wilayah tersebut cenderung fluktuatif, terutama saat musim penghujan.
Melalui inovasi GEMAS CANTIK, pendekatan yang digunakan berfokus pada pemberdayaan masyarakat dengan konsep “Satu Rumah Satu Jumantik” atau juru pemantau jentik. Setiap keluarga memiliki peran aktif untuk memeriksa dan membersihkan potensi tempat berkembang biaknya nyamuk secara rutin. Kegiatan ini dilaksanakan secara serentak setiap Jumat minggu pertama tiap bulan, bersamaan dengan kerja bakti lingkungan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari kader kesehatan hingga perangkat desa.
Tidak hanya itu, program ini juga didukung dengan sistem pencatatan dan pelaporan berjenjang dari rumah tangga hingga puskesmas. Data hasil pemantauan jentik dikumpulkan oleh kader, kemudian direkap oleh bidan desa dan dianalisis oleh petugas kesehatan. Edukasi berkelanjutan juga diberikan kepada masyarakat guna meningkatkan pemahaman tentang pentingnya gerakan 3M Plus, yaitu menguras, menutup, dan mengubur, serta langkah pencegahan lainnya.
Dengan pendekatan partisipatif dan terstruktur, GEMAS CANTIK diharapkan mampu menurunkan angka kesakitan akibat DBD sekaligus membangun budaya hidup bersih dan sehat di masyarakat. Program ini menjadi bukti bahwa keterlibatan aktif masyarakat merupakan kunci utama dalam keberhasilan pencegahan penyakit berbasis lingkungan, serta berpotensi menjadi model inovasi yang dapat diterapkan di wilayah lain.