Energi Terkendali, Data Terpantau: CERDAS Bikin RS Lebih Efisien

Ngawi – Kabupaten Ngawi kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong inovasi pelayanan publik. Kali ini, inovasi datang dari RSUD dr. Soeroto melalui sistem berbasis teknologi bernama CERDAS (Cek Energi dan Real Time Data Sistem) yang mampu memantau penggunaan listrik secara langsung dan akurat. Inovasi ini hadir sebagai jawaban atas tantangan besar dalam pengelolaan energi listrik di lingkungan rumah sakit. Sebagai fasilitas layanan kesehatan dengan aktivitas tinggi selama 24 jam, kebutuhan listrik di RSUD dr. Soeroto sangat besar. Listrik digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari alat medis, ruang perawatan, administrasi, hingga fasilitas pendukung lainnya. Setiap bulannya, biaya listrik rumah sakit ini bisa mencapai sekitar Rp150 juta. Besarnya konsumsi energi tersebut membuat pengelolaan listrik menjadi aspek krusial, bukan hanya dari sisi efisiensi anggaran, tetapi juga untuk menjaga keberlangsungan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Sebelum adanya inovasi CERDAS, sistem pemantauan listrik masih dilakukan secara manual. Petugas teknis harus melakukan pengecekan secara berkala dengan berkeliling dari panel induk ke panel pembagi di berbagai gedung. Proses ini biasanya dilakukan satu bulan sekali. Namun, metode ini memiliki banyak keterbatasan. Sering kali, gangguan listrik seperti beban berlebih, jaringan longgar, atau kerusakan panel tidak terdeteksi lebih awal. Akibatnya, masalah baru diketahui setelah terjadi gangguan, seperti listrik padam atau bahkan risiko kerusakan yang lebih serius. Kondisi ini tentu dapat mengganggu pelayanan rumah sakit, bahkan berpotensi membahayakan pasien. Melihat kondisi tersebut, lahirlah inovasi CERDAS sebagai solusi berbasis teknologi. Sistem ini memanfaatkan aplikasi digital yang terhubung langsung dengan jaringan listrik di rumah sakit. Melalui platform berbasis online, data penggunaan listrik dapat dipantau secara real-time melalui smartphone atau perangkat lainnya.

Dengan CERDAS, tim teknis kini dapat memantau berbagai parameter kelistrikan seperti tegangan, arus, hingga keseimbangan beban antar fasa secara langsung. Jika terjadi lonjakan penggunaan listrik atau indikasi gangguan, sistem akan memberikan informasi secara cepat sehingga penanganan dapat segera dilakukan sebelum masalah menjadi lebih besar. Keunggulan utama dari sistem ini adalah kemampuannya dalam memberikan data yang akurat dan berkelanjutan. Tidak lagi bergantung pada pengecekan manual bulanan, pemantauan kini bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Hal ini tentu meningkatkan kecepatan respon terhadap potensi gangguan serta memperkuat sistem pengamanan listrik di rumah sakit. Selain itu, CERDAS juga membantu manajemen dalam melakukan evaluasi penggunaan energi secara lebih terukur. Data yang tersimpan dapat dianalisis untuk mengetahui pola penggunaan listrik, mengidentifikasi pemborosan, serta merancang strategi efisiensi energi ke depan. Dengan demikian, rumah sakit tidak hanya mampu menjaga stabilitas listrik, tetapi juga dapat menekan biaya operasional secara signifikan.

Dari sisi pelayanan, inovasi ini memberikan dampak yang sangat positif. Stabilitas listrik yang lebih terjaga memastikan seluruh alat medis dapat beroperasi dengan optimal. Risiko gangguan pelayanan akibat listrik padam atau kerusakan sistem dapat diminimalkan, sehingga pasien tetap mendapatkan layanan yang aman dan berkualitas. Inovasi CERDAS mulai diuji coba pada 2 Januari 2024 dan resmi diimplementasikan pada 2 Mei 2024. Dalam waktu yang relatif singkat, sistem ini telah menunjukkan hasil yang signifikan. Bahkan, inovasi ini telah direplikasi di beberapa daerah lain sebagai contoh praktik baik dalam pengelolaan energi di fasilitas publik. Menariknya, pengembangan CERDAS tidak memerlukan teknologi yang mahal. Sistem ini memanfaatkan aplikasi yang tersedia secara gratis, sehingga menjadi solusi yang efisien namun tetap berdampak besar. Hal ini membuktikan bahwa inovasi tidak selalu membutuhkan biaya besar, tetapi lebih pada kreativitas dan kemampuan memanfaatkan teknologi secara tepat guna.

Keberhasilan CERDAS juga tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, mulai dari manajemen rumah sakit, tim teknis, hingga stakeholder terkait. Kolaborasi ini menjadi kunci dalam memastikan inovasi dapat berjalan dengan optimal dan berkelanjutan. Dengan tingkat kematangan inovasi yang mencapai 98 persen, CERDAS menjadi salah satu inovasi unggulan di Kabupaten Ngawi dalam bidang tata kelola pemerintahan, khususnya di sektor kesehatan. Sistem ini tidak hanya meningkatkan efisiensi internal rumah sakit, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Ke depan, inovasi CERDAS diharapkan terus berkembang, baik dari sisi fitur maupun cakupan implementasi. Tidak menutup kemungkinan sistem ini dapat diintegrasikan dengan teknologi lain seperti Internet of Things (IoT) atau kecerdasan buatan untuk analisis yang lebih mendalam. Hadirnya CERDAS menjadi bukti nyata bahwa transformasi digital di sektor kesehatan bukan lagi sekadar wacana, tetapi sudah menjadi kebutuhan. Dengan inovasi seperti ini, pelayanan publik di daerah semakin maju, adaptif, dan mampu menjawab tantangan zaman.

Scroll to Top