Ngawi – Di tengah meningkatnya permasalahan sampah, khususnya sampah organik di lingkungan sekolah, kebutuhan akan pengelolaan yang efektif dan berkelanjutan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan. Menjawab tantangan tersebut, SMPN 1 Karangjati Kabupaten Ngawi menghadirkan sebuah inovasi bertajuk Bossakti (Bank Kompos SMPN 1 Karangjati), sebuah sistem pengelolaan sampah organik yang tidak hanya menyelesaikan masalah lingkungan, tetapi juga menjadi media pembelajaran yang edukatif dan aplikatif.

Inovasi Bossakti lahir dari kondisi di mana sampah organik seperti sisa makanan, daun kering, dan limbah kantin belum dimanfaatkan secara optimal. Sebelumnya, sampah-sampah tersebut hanya dibuang tanpa pengolahan, sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran dan mengurangi kualitas lingkungan sekolah. Sejak mulai diimplementasikan pada tahun 2024, Bossakti menjadi fondasi baru dalam membangun budaya peduli lingkungan di sekolah.
Program ini dirancang secara sistematis melalui beberapa tahapan yang melibatkan seluruh warga sekolah. Dimulai dari sosialisasi dan pembentukan tim penggerak, kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan sampah organik dari berbagai titik di sekolah. Selanjutnya, sampah tersebut diolah melalui proses pencacahan, pencampuran, hingga fermentasi selama beberapa minggu hingga menjadi kompos yang siap digunakan.
Mengapa inovasi ini menjadi penting? Karena Bossakti tidak hanya menyelesaikan persoalan sampah, tetapi juga mengubah cara belajar siswa. Melalui program ini, siswa belajar secara langsung tentang proses biodegradasi, siklus ekosistem, serta pentingnya menjaga lingkungan. Kegiatan ini juga melatih tanggung jawab, kerja sama, dan kemandirian melalui sistem kerja bergilir dan pemantauan rutin terhadap proses kompos.
Kebaruan Bossakti terletak pada pendekatannya yang mengintegrasikan pengelolaan sampah dengan pembelajaran berbasis proyek (project-based learning). Tidak hanya berhenti pada proses produksi kompos, hasilnya juga dimanfaatkan untuk menyuburkan taman sekolah, kebun toga, bahkan berpotensi dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif yang memiliki nilai jual. Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar menjaga lingkungan, tetapi juga memahami peluang kewirausahaan berbasis lingkungan.
Dampak dari penerapan inovasi ini sangat nyata. Volume sampah organik di sekolah berkurang secara signifikan karena telah diolah menjadi kompos yang bermanfaat. Lingkungan sekolah menjadi lebih bersih, hijau, dan nyaman. Selain itu, terbentuk budaya baru di kalangan siswa dan guru untuk lebih peduli terhadap lingkungan melalui kebiasaan memilah dan mengelola sampah secara mandiri.
Jika dibandingkan dengan kondisi sebelumnya, perubahan yang terjadi sangat jelas. Dulu, sampah organik hanya menjadi limbah yang tidak bernilai dan berpotensi mencemari lingkungan. Kini, melalui Bossakti, sampah tersebut berubah menjadi sumber daya yang bermanfaat, baik untuk kebutuhan sekolah maupun masyarakat sekitar. Bahkan, jika sebelumnya siswa hanya memahami konsep lingkungan secara teori, kini mereka dapat mempraktikkannya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Bossakti bukan sekadar program pengelolaan sampah, melainkan sebuah gerakan perubahan. Dengan mengolah sampah menjadi kompos, membangun kesadaran lingkungan, dan membuka peluang ekonomi, inovasi ini membuktikan bahwa langkah sederhana di lingkungan sekolah mampu menciptakan dampak besar. Bossakti menjadi bukti bahwa dari sesuatu yang dianggap tidak berguna, dapat lahir nilai, pembelajaran, dan masa depan yang lebih berkelanjutan.