Desa Sekarjati, Kecamatan Karanganyar, kini menjadi buah bibir berkat gebrakan cerdas yang lahir di tengah musim kemarau. Program TASIK JATI (Tirta untuk Desa Sekarjati) sukses menuntaskan krisis air pertanian dengan menghadirkan 40 sumur irigasi jitu. Kepala Desa Sugeng Purnomo bergerak cepat, sementara warga mendukung penuh dengan semangat solidaritas. Biaya pengairan tidak lagi menjerat petani, sebab kas dikelola langsung oleh kelompok pengguna air. Mereka menentukan besarannya lewat musyawarah, sehingga setiap keputusan benar-benar berangkat dari kebutuhan bersama.

Awalnya, TASIK JATI hanya dimaksudkan sebagai solusi darurat. Namun kini, sumur-sumur itu menjelma menjadi model pembangunan berbasis kebutuhan lokal. Sawah tak lagi kekeringan, petani pun mantap melangkah karena akses air bersih hadir di depan mata. Program ini membuktikan bahwa kreativitas desa mampu menjawab tantangan agraria dengan solusi praktis, terukur, dan berkelanjutan. Sekarjati berhasil menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu membutuhkan modal besar, melainkan keberanian untuk bergerak bersama.
Keberhasilan tersebut tidak luput dari apresiasi. Inovasi Award Kabupaten Ngawi 2025 jatuh ke tangan Desa Sekarjati, menegaskan posisi desa ini sebagai ikon kemandirian dan ketangguhan. Desa yang dulunya menghadapi masalah air kini tampil sebagai pelopor inovasi yang layak ditiru. Warga berinovasi tanpa menggantungkan sepenuhnya pada pihak luar, melainkan mengandalkan gotong-royong dan ide segar yang terus berkembang. TASIK JATI pun menjadi simbol bahwa perubahan besar bisa lahir dari desa kecil.
Ke depan, peluang TASIK JATI masih terbuka lebar. BUMDes maupun kelompok tani dapat mengambil peran lebih formal dalam pengelolaan sumur, lengkap dengan regulasi dan sistem pendanaan yang jelas. Bukan hanya Sekarjati yang akan merasakan manfaat, tetapi juga desa-desa tetangga yang masih kesulitan air. Jika rencana ini berjalan mulus, kemarau tidak lagi menakutkan, sawah tetap hijau, dan petani semakin sejahtera. Tunggu saja jargon baru mereka: “Sumur murah, sawah rindang!”